REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) mengambil keputusan drastis setelah sebuah helikopter serang AH-64E Apache jatuh di Texas dan menewaskan dua penerbangnya. Seluruh operasi penerbangan latihan Apache dihentikan sementara sampai militer memperoleh gambaran lebih jelas mengenai penyebab kecelakaan tersebut.
Kecelakaan terjadi pada Rabu, 12 Agustus 2026, ketika sebuah AH-64E Apache dari Fort Hood jatuh di sebuah lapangan dekat Salado, Texas. Dua prajurit yang berada di dalam helikopter, Chief Warrant Officer 2 Deontre T. Huey (34 tahun) dan Warrant Officer Seth L. Olmstead (25), meninggal dunia. Keduanya bertugas di Bravo Company, 1st Battalion, 227th Aviation Regiment, 1st Air Cavalry Brigade, 1st Cavalry Division.
Fort Hood menyebut helikopter itu mengalami kecelakaan ketika melakukan maintenance test flight. Tim investigasi keselamatan dari U.S. Army Combat Readiness Center di Fort Rucker, Alabama, telah mengambil alih penyelidikan. Sampai keputusan penghentian sementara latihan diumumkan pada Jumat, 14 Agustus 2026, penyebab kecelakaan belum diketahui, sebagaimana diberitakan sejumlah media di Amerika.
“Penghentian sementara ini akan tetap diberlakukan hingga kami memperoleh pemahaman yang lebih jelas mengenai penyebab utama kecelakaan tersebut,” demikian pernyataan resmi Angkatan Darat AS. Dengan kata lain, penghentian berlaku terhadap penerbangan latihan Apache. Army tidak mengumumkan penghentian seluruh operasi Apache.
Tidak ada dasar untuk menyimpulkan kecelakaan Texas berhubungan dengan usia desain Apache atau keputusan modernisasi armada Angkatan Darat AS. Investigasi bahkan masih berlangsung. Namun, insiden tersebut datang pada sebuah persimpangan penting bagi penerbangan militer Amerika: Washington sedang mengubah cara pasukannya membagi pekerjaan antara helikopter berawak dan pesawat nirawak.
Dan perubahan itu membawa kembali ingatan kepada salah satu proyek helikopter paling ambisius, dan paling mahal, dalam sejarah Angkatan Darat AS. Namanya RAH-66 Comanche.
Seharusnya Menjadi Mata Apache
Tiga dekade lalu, hubungan antara Apache dan Comanche seharusnya sangat berbeda. Comanche dirancang untuk menjadi mata yang melihat jauh ke depan. Helikopter siluman itu akan mendekati wilayah lawan, melakukan pengintaian, menemukan serta mengklasifikasikan sasaran, kemudian memberikan informasi kepada kekuatan penyerang. Apache yang membawa persenjataan lebih berat kemudian dapat menghancurkan sasaran tersebut.
Akar Comanche berasal dari program Light Helicopter Experimental atau LHX yang dikembangkan Angkatan Darat sejak awal 1980-an. Dari program itulah Boeing dan Sikorsky kemudian mengembangkan sebuah helikopter pengintai bersenjata generasi baru dengan karakteristik low observable.
GAO menggambarkan Comanche sebagai sistem pengintai bersenjata generasi berikutnya Angkatan Darat yang dirancang mampu beroperasi dalam cuaca buruk dan menghadapi berbagai tingkat ancaman. Ia direncanakan menggantikan sejumlah helikopter lama, termasuk keluarga OH-58 yang menjalankan fungsi pengintaian.

3 hours ago
3














































