
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Amerika Serikat tengah menghadapi polarisasi politik yang semakin tajam. Perdebatan mengenai dampak kebijakan Presiden Donald Trump terhadap lembaga-lembaga konstitusional, perekonomian, dan hubungan luar negeri terus menguat.
Pada saat yang sama, Washington menghadapi berbagai tantangan secara bersamaan, mulai dari perang, ketegangan perdagangan, hingga memburuknya hubungan dengan para sekutunya.
Dalam sebuah artikel opini di situs The Hill berjudul “How to Destroy America in 20 Months”, dikutip Aljazeera, Kamis (10/9/2026), Harlan Ullman menilai bahwa selama 20 bulan terakhir Trump telah menimbulkan kerusakan besar terhadap Amerika Serikat.
Menurutnya, Trump memperluas kewenangan eksekutif dengan mengorbankan keseimbangan kekuasaan antarlembaga pemerintahan.
Ullman mengatakan Kongres kini semakin terbatas dalam menjalankan kewenangannya, sementara perintah eksekutif menjadi salah satu instrumen utama dalam menjalankan pemerintahan.
Sejak kembali ke Gedung Putih pada awal 2025, Trump telah mengeluarkan 279 perintah eksekutif.
Ullman juga mengkritik kebijakan tarif yang diterapkan Trump. Menurutnya, kebijakan tersebut menambah beban bagi rumah tangga Amerika, merugikan perekonomian global, sekaligus membuka front perdagangan dengan Kanada.
Ullman juga menyoroti upaya pemerintahan Trump untuk membatasi hak kewarganegaraan berdasarkan kelahiran (birthright citizenship), serta pembongkaran sayap timur Gedung Putih untuk membangun sebuah ruang pesta.
Menurutnya, langkah-langkah tersebut mencerminkan perluasan kewenangan presiden yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Penulis juga memperingatkan semakin lebarnya perpecahan di dalam negeri. Menurutnya, Partai Demokrat dan Partai Republik kini semakin memperlakukan lawan politik bukan sekadar sebagai pesaing, melainkan sebagai musuh yang harus dihancurkan.
Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai salah satu bentuk perpecahan politik terparah sejak Perang Saudara Amerika (1861–1865) dan Perang Vietnam (1955–1975).
Ullman juga mempertanyakan peningkatan kekayaan Trump dan keluarganya yang berasal dari aset kripto, serta hubungan bisnis mereka dengan para investor asing.
Selain itu, sejumlah anggota keluarga presiden disebut memperoleh keuntungan dari bisnis dan kontrak yang berkaitan dengan pemerintah, termasuk kontrak dengan Departemen Pertahanan.

5 hours ago
6














































