REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG — Fenomena warga negara asing (WNA) yang memeluk Islam di Kabupaten Karawang terus menjadi perhatian. Di balik meningkatnya jumlah WNA yang mengucapkan dua kalimat syahadat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Karawang menilai hidayah menjadi faktor utama, disusul ketertarikan terhadap keramahan masyarakat Indonesia dan interaksi mereka dengan kehidupan umat Islam.
Ketua MUI Kabupaten Karawang, KH Tajuddin Nur mengatakan, pihaknya memilih berprasangka baik terhadap setiap WNA yang datang untuk memeluk Islam. Menurut dia, tidak tepat jika seluruh WNA yang menjadi mualaf dikaitkan dengan keinginan untuk menikahi warga Indonesia.
"Dari pihak MUI tentu kita berbaik sangka. Ini bagian dari dakwah. Hidayah itu tidak bisa diminta, Allah yang memberikannya," ujar Kiai Tajuddin saat dihubungi Republika, Selasa (4/8/2026).
Ia mengakui, sebagian WNA memang memeluk Islam karena hendak menikah dengan warga Indonesia. Hal itu sejalan dengan ketentuan bahwa pasangan yang akan menikah harus menganut agama yang sama. Meski demikian, Kiai Tajuddin menegaskan, terdapat pula WNA yang masuk Islam bukan karena alasan pernikahan.
Ia mencontohkan seorang warga negara Korea Selatan yang mengucapkan syahadat di MUI Karawang. Hingga sekitar dua tahun setelah menjadi mualaf, yang bersangkutan ternyata tidak pernah menikah dengan warga Indonesia."Ada orang Korea yang masuk Islam di sini. Sampai sekitar dua tahun kemudian ternyata tidak jadi menikah. Berarti memang bukan semata-mata karena ingin menikah,”kata dia.
Menurut Kiai Tajuddin, selain hidayah, keramahan masyarakat Indonesia menjadi salah satu daya tarik yang membuat banyak WNA tertarik mengenal Islam. "Saya melihat memang keramahan orang Indonesia menjadi daya tarik tersendiri. Mereka cepat berempati dengan masyarakat Indonesia,”ujar dia.
Ia juga menduga kehidupan umat Islam yang tampak nyata dalam aktivitas sehari-hari ikut memberi kesan mendalam bagi para WNA.”Mungkin mereka melihat ketika waktu shalat, orang-orang Islam berbondong-bondong ke masjid atau mushala. Hal-hal seperti itu bisa saja menumbuhkan ketertarikan terhadap Islam," jelas dia.
Fenomena WNA menjadi mualaf ini bukan hanya terjadi di Karawang. Berdasarkan komunikasi antarpengurus MUI kabupaten/kota di Jawa Barat, Tajuddin menyebut prosesi pengislaman WNA maupun warga non-Muslim juga kerap terjadi di Sukabumi, Indramayu, dan Tasikmalaya.

23 hours ago
5













































