REPUBLIKA.CO.ID, TAMIANG -- Pelajaran yang mengupas angka seperti matematika kerap menjadi momok menakutkan bagi sebagian siswa. Bahkan guru matematika acapkali diidentikan sebagai guru killer yang ditakuti siswa.
Ketidaksukaan siswa terhadap pelajaran berbau numerasi tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan skor literasi membaca dan matematika dari sebagian besar siswa Indonesia masih di bawah rata-rata negara OECD. Hanya 25 persen siswa yang berada diatas rata-rata skor literasi membaca, dan 18 persen yang di atas rata-rata skor matematika.
Angka-angka itu mencerminkan urgensi dibutuhkannya intervensi sejak awal gun meningkatkan literasi dan numerasi. Intervensi itulah yang coba dilakukan Bakti BCA yang menggandeng Yohanes Surya sebagai pencetus metode Gampang, Asyik, dan Menyenangkan (GASING).
Wilayah terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh menjadi salah satu sasaran pelatihan "Belajar Cerdas Angka ala GASING” yang diadakan Bakti BCA. Sebanyak 50 siswa dan 10 guru di Kabupaten Aceh Tamiang mendapat pelatihan itu.
Pelatihan berlangsung sejak 2-12 April 2026 dengan memanfaatkan ruangan di SMPN1 Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Peserta GASING di Aceh Tamiang berasal dari SD Negeri 1 Kualasimpang, SD Negeri 2 Kualasimpang, SD Negeri 4 Kualasimpang, dan SD Negeri Kota Lintang
Siswa peserta pelatihan dari SDN 2 Kualasimpang, Putri Thalita merasakan manfaat metode GASING. Semula, Putri tak menyukai pelajaran matematika. Putri ogah berteman dengan angka karena dianggap sulit. Tapi kini Putri sudah berdamai dengan angka.
"Sebelum ikut ini, saya susah paham matematika, kalau sekarang sih sudah suka ya," kata Putri saat ditemui dalam penutupan pelatihan pada Senin (13/4/2026) di SMPN1 Kuala Simpang, Aceh Tamiang.
Hal senada disampaikan oleh Siti Balqis yang turut mengikuti pelatihan itu sebagai siswa Sdn 1 Kotalintang. Balqis merasa kesulitan saat mengeyam pelajaran matetika. Namun pelatihan ini membuat Balqis mulai merajut kepingan cinta untuk pelajaran matematika.
Metode GASING memang bisa menjadi jembatan bagi siswa untuk mencintai matematika. Lewat metode GASING, anak-anak diajak bermain dan bereksplorasi dengan alat peraga agar benar-benar terasa dan terbayang konsep yang ingin disampaikan.
"Guru-gurunya seru, baik, selama belajar kami diajak nyanyi, jadi belajarnya nggak bosen," ujar Siti yang diiyakan oleh Putri.
Salah satu ciri khas metode GASING ialah anak-anak melakukan perhitungan di luar kepala dengan cepat. Dalam sesi penutupan pelatihan, Republika menyaksikan para peserta dapat menjawab soal hitungan dengan cepat. Bahkan saking antusiasnya, mereka berlomba menjawab lebih cepat.
Perwakilan Gasing Academy, Denadine Angeli menjelaskan pelatihan di Aceh Tamiang berjalan selama 10 hari dari 2-12 April 2026. Sebelum pelatihan atau dalam hasil pretest skor rata-rata hanya 26,50. Setelah pelatihan, skor post test siswa naik menjadi 79,76. Denadine menyebut kecepatan siswa mengerjakan soal matematika pun mengalami peningkatan.
"Kecepatan mengerjakan soal sebelimnya di atas 5 menit, setelah pakai metode gasing jadi di bawah 5 menit," ujar Denadine.
Sedangkan Prof Yohanes Surya menjelaskan metode GASING sejatinya memperkenalkan 8C mencakup critical thinking, creativity, colabority, communication, computational logic, character, compassion. Pelajaran soal hitung-hitungan hanya salah satu bagian dari 8C.
"Nah, itu (8C) sebenarnya semua yang kita latih. Nah, dari situ terbentuklah ngitung cepat. Jadi kita gunakan ngitung cepat itu sebagai tools untuk mengembangkan 8C itu," ujar Yohanes.
Lewat metode itu, Yohanes menekankan tujuan utamanya mengubah kepribadian anak. Mereka diharapkan tak lagi menganggap pelajaran numerik menyeramkan.
"Jadi sebenarnya yang kita kembangin adalah kepribadian si anak gitu loh. Karakternya berubah. Makanya kan lihat aja percaya dirinya muncul. Nah, itu percaya diri semangat. Percaya diri muncul karena mencongak. Kita latih dengan mencongak, 2 + 3, 3 + 4, 4 + 5, dan seterusnya. Nah, itu latihan. Jadi matematik itu tools (alat). Tapi bonus, anak-anaknya jadi bisa," ucap Yohanes.
Diketahui, pelatihan ini digelar sebagai wujud komitmen BCA membantu pemulihan masyarakat terdampak bencana di Aceh, terutama di sektor pendidikan. Pelatihan dirancang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi berhitung siswa, sekaligus mendukung peningkatan indeks numerasi di Aceh Tamiang.

6 hours ago
1














































