lola malihah
Agama | 2026-08-01 06:33:33
Bentang Alam, Bentang Amanah
Lola Malihah.
Dosen Prodi Manajemen Bisnis Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Darussalam Martapura, Kalimantan Selatan.
"Maka ke mana pun engkau memandang, di sanalah wajah kebesaran-Nya." Barangkali itulah kalimat yang terus bergaung di dalam hati ketika saya menempuh perjalanan darat dari ibukota Kalimantan Selatan menuju ibukota Kalimantan Timur. Lebih dari sepuluh jam roda kendaraan berputar, membelah jalan yang membentang di antara sungai, rawa, hutan, dan perkampungan yang tumbuh bersahaja. Perjalanan itu memang melelahkan, tetapi justru di sanalah saya menemukan jeda untuk melihat Kalimantan dengan cara yang berbeda.
Dari balik jendela kendaraan, saya menyaksikan bentang alam yang seolah tak bertepi. Hamparan lahan basah yang tenang, pepohonan yang menjulang, aliran sungai yang setia menghidupi masyarakat, serta langit yang terasa begitu lapang. Di hadapan keluasan itu, saya justru merasa semakin kecil. Kesadaran itu menghadirkan satu pertanyaan sederhana, tetapi mengusik batin: untuk apa Allah memperlihatkan kepada manusia bentang alam seluas ini?
Jawabannya tidak saya temukan dalam percakapan sepanjang perjalanan, melainkan dalam keheningan. Alam seolah sedang berbicara tanpa kata. Ia mengingatkan bahwa manusia bukan pusat alam semesta. Kita hanyalah satu makhluk di antara jutaan makhluk ciptaan-Nya yang sama-sama memiliki hak untuk hidup. Pohon yang tumbuh, burung yang terbang, bahkan tanah gambut yang menyimpan air, semuanya adalah bagian dari jaringan kehidupan yang saling menguatkan.
Sayangnya, manusia kerap memandang alam hanya dari nilai ekonominya. Hutan dihitung dari kayu yang dihasilkan, sungai berdasarkan potensi investasinya, dan lahan basah dianggap sebagai ruang kosong yang siap diubah menjadi kawasan industri atau permukiman. Cara pandang seperti ini membuat kita lupa bahwa alam bukan sekadar objek pembangunan, melainkan amanah yang harus dijaga.
Dalam Islam, manusia tidak pernah disebut sebagai pemilik bumi. Al-Qur'an menyebut manusia sebagai khalifah fil ardh, wakil Allah di bumi yang diberi amanah untuk memakmurkan, menjaga, dan menghadirkan kemaslahatan. Menjadi khalifah bukanlah hak istimewa untuk menguasai, melainkan tanggung jawab untuk merawat. Amanah itu menuntut keseimbangan antara ikhtiar membangun peradaban dan kewajiban menjaga keberlanjutan kehidupan.
Perjalanan itu juga menyadarkan saya akan satu hal. Selama ini kita sering berbicara tentang eksploitasi sumber daya alam, padahal yang lebih dibutuhkan adalah eksplorasi nilai. Mengeksplorasi bukan berarti mengambil sebanyak-banyaknya, melainkan belajar memahami kebijaksanaan yang tersimpan di balik ciptaan Allah, serta melahirkan rasa syukur.
Bagi masyarakat Kalimantan, terutama yang hidup berdampingan dengan sungai dan lahan basah, alam bukan sekadar ruang hidup, tetapi juga ruang budaya, ruang spiritual, dan ruang pembelajaran. Dari sungai mereka belajar mengalirkan manfaat. Dari rawa mereka belajar menyimpan kehidupan. Dari hutan mereka belajar tentang kesabaran, keseimbangan, dan keberlanjutan. Kearifan seperti inilah yang seharusnya tetap hidup di tengah derasnya arus pembangunan.
Pembangunan tentu merupakan sebuah keniscayaan. Jalan yang semakin baik memperpendek waktu tempuh, membuka akses ekonomi, mempertemukan masyarakat, dan menggerakkan pertumbuhan. Namun, pembangunan akan kehilangan makna apabila diiringi rusaknya bentang alam yang selama berabad-abad menjadi penyangga kehidupan. Kemajuan juga semestinya dilihat dari sejauh mana sungai tetap jernih, hutan tetap lestari, dan lahan basah tetap mampu menjalankan fungsi ekologisnya.
Di tengah perjalanan itu saya menyadari bahwa jalan raya ternyata bukan hanya menghubungkan antar provinsi. Jalan itu juga menghubungkan manusia dengan kesadarannya sebagai khalifah. Setiap kilometer yang dilalui seakan mengingatkan bahwa kita hanyalah musafir yang sedang melintasi bumi Allah. Tidak ada yang benar-benar kita miliki. Semua hanyalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Bentang alam Kalimantan akhirnya saya pahami bukan sekadar panorama yang memanjakan mata, melainkan bentang amanah. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada kemampuannya menaklukkan alam, tetapi pada kesanggupannya menjaga keseimbangan kehidupan. Sebab, ukuran keberhasilan seorang khalifah bukanlah seberapa luas bumi yang berhasil ia kuasai, melainkan seberapa baik bumi itu tetap lestari setelah ia tinggalkan.
Mungkin itulah oleh-oleh paling berharga dari perjalanan panjang tersebut. Bukan foto-foto yang tersimpan di telepon genggam, bukan pula cerita tentang lelahnya menempuh perjalanan berjam-jam, melainkan sebuah kesadaran bahwa setiap hamparan hutan, setiap aliran sungai, dan setiap jengkal lahan basah sesungguhnya sedang mengingatkan manusia akan satu amanah besar: merawat bumi adalah bagian dari ibadah, dan menjaga alam adalah cara kita mensyukuri nikmat Allah.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

9 hours ago
8














































