BRIN: El Nino Bikin Curah Hujan Drop Jauh Mulai Bulan Ini

8 hours ago 6

HARI-hari panas mencekam wilayah Jabodetabek beberapa hari terakhir. Sorot terik matahari sepanjang hari tak memicu guyuran hujan pada sore atau malam seperti yang biasanya terjadi. Mantra fenomena El Nino itu nyata pada peta sebaran hujan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG yang menunjukkan hujan sangat minim sejak awal bulan ini. Sebarannya hanya di bagian selatan, itu pun tertinggi hanya 34,5 mm per hari atau tergolong hujan sedang.

Curah hujan berkurang drastis pada bulan ini bukan hanya di Jabodetabek, tapi sebagian besar wilayah Indonesia. Dan ini hanya permulaan. Menurut peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin, sepanjang Juli nanti pun secara umum kondisinya hampir sama. "Begitupun dengan Agustus hingga September: curah hujan mengalami reduksi besar-besaran,” kata dia dalam keterangan yang dibagikannya pada Sabtu, 6 Juni 2026. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Koordinator Tim Variabilitas dan Perubahan Iklim BRIN tersebut mengungkapkan bahwa Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) telah menetapkan pembentukan El Nino pada Juni 2026 setelah mengamati pemanasan suhu permukaan laut yang konsisten periode April hingga Juni. “Intensitasnya terpantau mencapai sekitar +0,69 derajat Celcius di wilayah tropis tengah ekuator Samudra Pasifik,” ujarnya.

Berdasarkan pemodelan yang dikembangkan tim BRIN, dampak awal El Nino tersebut sudah terlihat dari penurunan curah hujan yang signifikan di sejumlah wilayah Indonesia pada dasarian pertama Juni ini. Wilayah Jawa tercatat mengalami pengurangan curah hujan yang cukup besar. Sementara itu, kondisi yang lebih kering terjadi di kawasan Indonesia tenggara, meliputi Bali, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kemudian pada dasarian kedua Juni, kondisi kering diperkirakan semakin luas di wilayah selatan Indonesia. Curah hujan di banyak daerah diprediksi berada di bawah 0,5 milimeter, dengan hujan hanya terjadi secara lokal di sebagian wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Dalam analisis tim BRIN, pada dasarian ketiga Juni terdapat peluang peningkatan hujan di pesisir barat Sumatera. Itu pun karena proyeksi kemunculan vorteks di Samudra Hindia yang dapat meningkatkan aktivitas konvektif dan membawa tambahan uap air ke wilayah tersebut. Namun, kondisi ini diperkirakan tidak banyak mempengaruhi Pulau Jawa yang masih akan mengalami minim hujan.

Memasuki Juli, pola cuaca kering diprediksi masih mendominasi wilayah selatan Indonesia. Hujan diperkirakan lebih banyak terkonsentrasi di Sumatera dan sebagian Kalimantan akibat pengaruh vortex yang berkembang di sekitar Samudra Hindia dekat Sumatra. “Yang kebagian hujan itu Sumatera dan Semenanjung Malaya. Sementara wilayah selatan Indonesia secara umum masih kering,” kata Erma.

BRIN memproyeksikan kondisi minim hujan di Jawa akan berlangsung setidaknya hingga Agustus dan September. Hujan lokal masih mungkin terjadi di beberapa wilayah Jawa Barat seperti Bogor dan Bandung, namun secara umum berada di bawah kondisi normal. Peluang peningkatan hujan di Jawa baru mulai terlihat pada Oktober, terutama pada dasarian pertama.

Wilayah Paling Kering

Menurut Erma, wilayah yang berpotensi mengalami musim kering paling panjang berada di Indonesia tenggara dan kawasan utara Jawa. Hari tanpa hujan diperkirakan berlangsung sejak Juni hingga September, bahkan dapat berlanjut sampai Oktober di sejumlah daerah.

"Kondisi tersebut perlu diantisipasi oleh pemerintah daerah dan masyarakat karena berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, serta ancaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah yang rentan selama musim kemarau," tuturnya.

Dalam Konferensi Pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 pada Rabu, 4 Maret lalu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani juga menyatakan kemarau tahun ini lebih kering dan lebih panjang daripada biasanya.  

“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (early  warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (early action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” kata Faisal. 

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |