Core Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I 5,35 Persen

6 hours ago 4

LEMBAGA Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memprediksi ekonomi Indonesia di triwulan pertama 2026 tumbuh 5,25-5,35 persen. Badan Pusat Statistik dijadwalkan merilis data pertumbuhan ekonomi pada 5 Mei mendatang.

Menurut laporan bertajuk "Brief Report: Quarterly Economic Review Q1-2026" yang dirilis CORE pada 29 April 2026, pertumbuhan ini utamanya ditopang oleh prospek pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Serta pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan belanja pemerintah pusat.

“Sementara itu, untuk keseluruhan tahun 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di 4,9-5,1 persen,” demikian tertulis dalam laporan tersebut, dikutip pada Ahad, 3 Mei 2026.

CORE mencatat konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh cukup kuat pada kuartal I 2026, tapi akan melemah pada kuartal berikutnya sepanjang 2026. Penyebabnya adalah kenaikan inflasi karena melonjaknya biaya produksi dunia usaha. Meningkatnya harga minyak mentah dunia berpotensi menjalar ke naiknya inflasi domestik akibat biaya produksi yang makin mahal. 

Dorongan inflasi terjadi imbas gangguan di sisi suplai (cost-push inflation). Gangguan ini berupa kenaikan harga LPG nonsubsidi ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram sebesar 18 persen per tabung, kenaikan harga plastik akibat meroketnya harga nafta, serta meningkatnya harga minyak goreng yang langsung bersentuhan dengan aktivitas sehari-hari rumah tangga kelas menengah.

PMTB diprediksi tumbuh ekspansif pada kuartal I 2026, tapi prospeknya memudar pada kuartal selanjutnya akibat gejolak di Timur Tengah. Pendorong utama kinerja investasi pada tiga bulan pertama 2026 adalah lonjakan impor produk penunjang mesin dan perlengkapan.

Dari sisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, kebijakan fiskal pada kuartal I 2026 menghadapi ujian. Eskalasi konflik geopolitik di sekitar Selat Hormuz mendorong kenaikan beban subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak secara drastis, dengan realisasi hingga Februari 2026 telah mencapai Rp 51,5 triliun atau tumbuh 382,6 persen secara tahunan.

Tekanan makin berat karena belum ada tanda mereda. Sedangkan kalkulasi CORE menunjukkan APBN hanya mampu mengkompensasi kenaikan harga rata-rata minyak di kisaran US$ 90 per barel dengan asumsi nilai tukar 17 ribu per dolar Amerika Serikat. 

Di satu sisi, belanja negara yang meningkat 31 persen secara tahunan mendorong defisit meningkat secara drastis. Defisit hingga akhir Maret tercatat Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen dari PDB dan merupakan laju tertinggi dalam lima tahun terakhir untuk periode yang sama.

Sementara itu, pemerintah masih optimistis pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 akan melampaui kuartal sebelumnya yang tercatat 5,39 persen. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto memprediksi ekonomi Indonesia bakal tumbuh mencapai 5,5 persen.

Proyeksi tersebut sejalan dengan ramalan Kementerian Keuangan. “Proyeksi Kementerian Keuangan, pertumbuhan di triwulan I diperkirakan 5,5 persen,” ucap Menteri Keuangan Juda Agung, Senin lalu. Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia ini menyatakan alasan di balik keyakinan tersebut adalah meningkatnya pendapatan negara, khususnya pajak. 

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |