CSIS: Penurunan Produksi Batu Bara Tekan Pasokan Listrik dan Ekspor Nasional

2 hours ago 3

Ilustrasi pengiriman batu bara sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menggunakan kapal Baruna Power 3301 milik PT PLN Energi Primer Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menilai pemadaman listrik yang terjadi saat ini tidak semata-mata disebabkan persoalan teknis, melainkan berkaitan dengan penurunan produksi batu bara yang berdampak pada pasokan energi nasional.

Yose mengatakan pemadaman terjadi akibat terbatasnya pasokan batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik, baik milik PT PLN maupun pembangkit listrik swasta atau independent power producer (IPP).

"Produksi batu bara tahun lalu menurut Kementerian ESDM mencapai 790 juta ton, turun dari 836 juta ton pada 2024," ujar Yose dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Di sisi lain, kebutuhan batu bara dalam negeri terus meningkat dan sebagian besar dipenuhi melalui skema domestic market obligation (DMO), termasuk untuk pembangkit listrik. Yose menjelaskan, meskipun produksi turun, realisasi DMO justru meningkat dari 232 juta ton pada 2024 menjadi 246 juta ton pada tahun lalu.

"Akibatnya, ekspor mengalami penurunan sejak awal 2025 dan terus berlanjut hingga saat ini," kata Yose.

Menurut Yose, tren penurunan produksi berpotensi berlanjut seiring penataan ulang melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang ditetapkan Kementerian ESDM. Dalam RKAB tersebut, target produksi batu bara ditetapkan sekitar 600 juta ton atau turun sekitar 24 persen dibandingkan realisasi tahun lalu.

Sementara itu, target DMO hanya meningkat tipis menjadi 248 juta ton. Yose menilai kebijakan tersebut mempersempit ruang fleksibilitas produsen batu bara dalam menjalankan usahanya.

Ia menyampaikan saat ini sejumlah produsen batu bara menghentikan produksi karena belum memperoleh persetujuan RKAB. Meskipun pemerintah telah memberikan relaksasi agar produksi tetap berjalan, ketidakpastian terkait prospek bisnis batu bara dinilai masih tinggi.

"Hal ini tentu menjadi pertimbangan bagi para produsen untuk melanjutkan aktivitas mereka," ujarnya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |