KERJA SAMA Indonesia dan Korea Selatan menguat melalui sejumlah kesepakatan yang mencakup sektor-sektor strategis. Dalam lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan pada 1 April 2026, kedua negara mengamankan lebih dari 20 kesepakatan dengan nilai mencapai US $102 miliar atau sekitar Rp 173 triliun.
Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan Cecep Herawan mengatakan rangkaian kesepakatan tersebut tidak hanya berfokus pada ekonomi, tetapi juga mencakup kerja sama antarpemerintah di bidang politik, pertahanan, pendidikan, budaya, teknologi, hingga kecerdasan artifisial (AI).
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Lebih dari 20 kesepakatan yang sifatnya konkrit dan juga ada tercakup di dalamnya komitmen yang sifatnya G2G di bidang politik, pertahanan, ekonomi, pendidikan, budaya, serta teknologi dan AI,” kata Cecep dalam diskusi acara Indonesian Next-Generation Journalist Network yang diselenggarakan Korea Foundation (KF) dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Wisma Duta Besar RI di Seoul pada Selasa, 9 Juni 2026.
Cecep merinci, berbagai kesepakatan tersebut menunjukkan semakin eratnya hubungan Indonesia dan Korea Selatan sebagai sesama negara berkekuatan menengah atau middle power. Kedua negara kini tidak hanya menjalin hubungan dagang, tetapi juga memperluas kolaborasi pada sektor-sektor yang dinilai penting bagi pembangunan jangka panjang.
Kemitraan di Bidang Pertahanan
Salah satu bidang yang terus menjadi landasan hubungan kedua negara adalah pertahanan. Cecep menyebut Indonesia memiliki posisi khusus dalam industri pertahanan Korea Selatan. Sejak 1979, Indonesia tercatat sebagai pelanggan pertama sejumlah produk pertahanan yang dikembangkan negara tersebut.
Beberapa produk yang telah digunakan Indonesia antara lain pesawat latih KAI KT-1 Woongbi yang dioperasikan Tim Jupiter TNI Angkatan Udara dan pesawat latih tempur KAI T-50 Golden Eagle.
Meski demikian, kerja sama pertahanan kedua negara tidak terbatas pada pembelian alat utama sistem persenjataan. Cecep mengatakan Indonesia juga terlibat dalam pengembangan industri pertahanan Korea Selatan.
“Kita bukan hanya sekadar membeli untuk kepentingan pertahanan. Indonesia juga menjadi mitra pembangunan industri Korea bidang pertahanan,” ujar Cecep.
Keterlibatan tersebut terlihat dalam proyek pengembangan pesawat tempur generasi terbaru KF-21 Boramae. Indonesia mengirimkan sejumlah insinyur dan pilot untuk berpartisipasi langsung dalam proyek tersebut.
Cecep menilai partisipasi itu memberikan manfaat berupa transfer pengetahuan dan pengalaman yang dapat mendukung pengembangan sumber daya manusia Indonesia di sektor industri pertahanan.
“Korea memang belajar industri pertahanan dari Amerika. Kita belajar industri pertahanan yang sudah dipelajari Korea dari Amerika ke Korea,” katanya menambahkan.
Kendaraan Listrik hingga Energi Terbarukan
Selain pertahanan, kerja sama yang disepakati Indonesia dan Korea Selatan juga menjangkau sektor kendaraan listrik, semikonduktor, energi terbarukan, serta investasi industri. Bidang-bidang tersebut menjadi bagian dari agenda penguatan industri dan pengembangan teknologi yang tengah didorong kedua negara.
Cecep berharap iklim politik dan ekonomi Indonesia tetap stabil sehingga berbagai komitmen investasi yang telah disepakati dapat direalisasikan. Menurut dia, stabilitas menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor asing dan mendorong masuknya investasi baru ke Indonesia.
Adapun Cecep juga menilai kerja sama Indonesia dan Korea Selatan tetap relevan karena kedua negara memiliki keunggulan yang saling melengkapi. “Karena Korea unggul di teknologi dan informasi, sementara kita unggul di sumber daya alam dan juga kita punya sumber daya manusia yang melimpah,” ucapnya.
















































