Irwin Ananta Vidada, SE, MM, dosen Program Studi Manajemen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) dan Pemerhati Pasar Modal
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Irwin Ananta Vidada, SE, MM, dosen Program Studi Manajemen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) dan Pemerhati Pasar Modal
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan tajam pada Kamis, 29 Januari, menyusul tekanan jual besar-besaran setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dirilis pada 28 Januari 2026. Pada awal perdagangan, IHSG sempat terkoreksi hampir 6 persen hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt), sebelum tekanan berlanjut dan membawa indeks turun lebih dari 13 persen ke kisaran 7.700. Hampir seluruh saham tercatat mengalami tekanan jual, menurut analis pasar.
Meski terlihat dramatis, kejatuhan IHSG kali ini bukan disebabkan oleh runtuhnya fundamental ekonomi Indonesia. Aktivitas ekonomi tetap berjalan, perbankan beroperasi normal, dan perusahaan-perusahaan masih menjalankan kegiatan usahanya. Yang terdampak signifikan dalam peristiwa ini adalah kepercayaan terhadap pasar modal.
Pengumuman MSCI Picu Tekanan Pasar
Tekanan di pasar dipicu oleh pengumuman MSCI yang dirilis lebih awal dari ekspektasi pelaku pasar. Pengumuman yang sebelumnya diperkirakan keluar pada 30 Januari, justru muncul pada 28 Januari, ketika pasar belum sepenuhnya siap dan kejelasan kebijakan dari otoritas belum tersampaikan secara menyeluruh.
Pada awalnya, investor memperkirakan MSCI hanya akan melakukan penyesuaian free float dengan dampak yang baru terasa pada Mei. Namun, isi pengumuman tersebut dinilai lebih serius.
MSCI menetapkan kebijakan interim freeze, yakni membekukan seluruh variabel indeks: tidak ada penambahan saham, tidak ada pengurangan, dan tidak ada rebalancing indeks pada Februari. Seluruh mekanisme tersebut dikunci hingga Mei.
Pelaku pasar menilai kondisi ini berpotensi membuat Februari menjadi periode minim katalis indeks. Aliran dana pasif yang selama ini menjadi salah satu pendorong reli saham terhenti sementara.
Situasi ini menjadikan periode Februari hingga menjelang Mei sebagai fase krusial bagi pasar modal Indonesia, sekaligus menjadi ujian bagi otoritas dan pemangku kepentingan untuk memulihkan kepercayaan investor global.

2 hours ago
1

















































