Imbas Melemahnya Rupiah ke Importir: Efisiensi Jam Kerja

8 hours ago 4

DAMPAK negatif pelemahan nilai tukar rupiah mulai dirasakan oleh pengusaha impor. Ketua Umum Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Subandi menyatakan pengusaha mulai melakukan beberapa langkah imbas kurs dolar yang kini telah menyentuh Rp 18.000.

Salah satu yang dilakukan pengusaha di tengah peningkatan beban biaya karena pelemahan rupiah adalah efisiensi waktu kerja karyawan. “Beberapa industri khususnya yang menjadi anggotanya GINSI sudah ada yang mulai menurunkan ritme kerja yang tadi 3 shift, sekarang tinggal 2 shift,” kata Subandi ketika dihubungi Tempo, Sabtu, 6 Juni 2026.

Pengusaha juga makin cemas karena rupiah yang saat ini makin mendekati level psikologis 19.000 per dolar AS atau melampaui ambang batas toleransi operasional (operational threshold) dunia usaha. Kekhawatiran itu muncul karena mata uang Garuda di awal tahun masih di kisaran 16.000 per dolar AS. Hingga penutupan perdagangan Jumat, 5 Mei 2026 rupiah mendekati rekor terendah 18.030 per dolar AS.

Subandi menyatakan importir sebetulnya menetapkan batas aman rupiah adalah 15.500 hingga 15.800 per dolar AS. Nilai tersebut terakhir kali tercatat pada 2024. Menurut dia, para importir telah membuat kalkulasi bahwa batas psikologi yang mampu ditoleransi hanya sampai 19.000 per dolar AS. 

“Menyentuh angka 19.000 ke atas, para pelaku usaha menyampaikan ke kami bahwa mereka akan kewalahan untuk bisa melanjutkan produksi atau mendatangkan barang dari luar negeri,” kata Subandi lagi.

Kenaikan sampai 19.000 per dolar AS, artinya telah meningkat sekitar 20 persen dari batas aman yang diharapkan pengusaha. Beban biaya modal impor akan meningkat signifikan.

Subandi memberi contoh kisaran dengan kurs rupiah di kisaran dua tahun lalu, dengan modal Rp 100 miliar pengusaha bisa mendapatkan barang misal 1.000. Jika kurs rupiah terperosok ke level 19.000, berarti pengusaha harus membayar Rp 120 miliar untuk volume barang yang sama. Selain belanja modal, pajak yang harus dibayar juga bertambah karena pajak dipungut berdasarkan transaksi invoice.

Belum lagi kenaikan ongkos logistik hingga biaya pengiriman lain. Akibatnya, harga pokok penjualan impor juga meningkat. Dalam kondisi ini, kata Subandi, pengusaha tak punya pilihan selain menaikkan harga jual produk. Pilihan ini sulit di tengah daya beli masyarakat yang juga belum kuat.

Bila impor dan produksi berkurang, efisiensi jadi jalan yang akan ditempuh. Dimulai dari pengurangan jam kerja karyawan, perumahan sementara, hingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). 

Adapun Bank Indonesia dan pemerintah sampai saat ini masih terus berupaya menjaga stabilitas rupiah. Gubernur BI Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pastikan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter berjalan erat di tengah pelemahan rupiah. Perry mengatakan kedua lembaga berupaya untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Penguatan koordinasi fiskal dan moneter itu terus kami lakukan dan saat ini adalah memang difokuskan bagaimana fiskal dan monetor seirama, saling mendukung, saling memperkuat dengan kewanganan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” ucap Perry dalam konferensi pers di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2026.

Anastasya Lavenia berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan Editor: Efek Lesunya Rupiah pada Klaim Asuransi Kesehatan

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |