Waketum MUI KH Marsudi Syuhud mencium tangan KH Ma'ruf Amin i peluncuran buku terbaru Mustasyar PBNU, Prof. KH Ma'ruf Amin, berjudul Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2026) malam.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Atmosfer jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) kali ini dinilai menghadirkan fenomena baru yang jauh lebih terbuka dan edukatif dibanding perhelatan sebelumnya.
Hal tersebut disampaikan oleh Tokoh Muda NU yang juga Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Muhammad Afifi, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Menurut Afifi, keterbukaan panggung bagi para kandidat Calon Ketua Umum (Caketum) PBNU—mulai dari penggunaan fasilitas Gedung MPR hingga forum podcast—memberikan kesempatan emas bagi para pemegang hak suara (muktamirin) dari tingkat Cabang maupun Wilayah untuk membedah secara langsung gagasan serta program kerja para calon.
"Muktamar sekarang sangat beda. Kandidat disediakan panggungnya untuk tampil. Ini sangat baik agar muktamirin bisa melihat bagaimana program ke depan," ujar Afifi.
Di tengah dinamisnya bursa pencalonan dan beragam hasil survei, Afifi menyoroti kemunculan Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud, sebagai figur yang sangat potensial. Dia menilai Kiai Marsudi bergerak secara senyap namun masif di akar rumput.
Dia menyebut kandidat yang menarik dan jarang tersorot media itu KH Marsudi Syuhud. "Beliau ini 'kuda hitam'. Gerakannya lancar dan banyak tidak terekam oleh tim sukses kandidat lain. Sosok model seperti ini yang berpeluang besar muncul sebagai Ketua Umum," ungkapnya.
Mengenal Kiai Marsudi sejak lama—bahkan sempat ditugaskan mengajar di pondok pesantren milik Kiai Marsudi di Kedoya, Jakarta—Afifi paham betul karakter kepemimpinan mantan Sekretaris Jenderal PBNU tersebut.
Kiai Marsudi dinilai sebagai figur yang optimis, membumi, terbuka kepada semua kalangan, serta memiliki rekam jejak (legacy) konkret di ranah internasional maupun nasional, seperti inisiatif program gerakan seribu dokter. Namun, nilai tambah utama Kiai Marsudi terletak pada keberpihakannya terhadap penguatan ekonomi warga.
Afifi menegaskan bahwa agenda besar Muktamar ke-33 NU di Jombang terkait pemberdayaan ekonomi umat hingga kini masih belum tuntas.

1 hour ago
2














































