REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, ada berbagai pihak yang menentang adanya kesepakatan Teheran dengan Washington. Salah satu yang terutama dalam kubu tersebut adalah Israel.
"Tentu saja, ada penentang kesepakatan tersebut, yang dipimpin oleh rezim Zionis, yang mencari dalih untuk menggagalkannya," kata sang menlu di televisi Iran.
Sebelumnya pada 28 Februari, AS dan Israel secara brutal mulai menyerang target di Iran, yang menewaskan hingga lebih dari 3.000 orang. Kemudian pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata, yang yang hingga kini masih berlaku secara resmi.
Selanjutnya, proses negosiasi antara Iran dan AS sedang berlangsung, dengan kedua negara berupaya menyepakati kerangka memorandum kesepahaman untuk menuntaskan konflik. Namun, Kedua pihak secara berkala masih saling melancarkan serangan terisolasi melalui berbagai operasi militer.
Media-media Iran melansir rancangan memorandum berisi 14 poin yang dilaporkan telah disepakati Iran dan Amerika Serikat. Rancangan tersebut dilaporkan mencakup penghentian permusuhan secara permanen, termasuk di Lebanon, dan pencabutan pembatasan ekonomi terhadap Iran secara bertahap.
Menurut Kantor Berita Iran, Mehr, sumber yang dekat dengan tim perunding Iran mengungkapkan rincian usulan memorandum 14 poin yang saat ini sedang dibahas antara Teheran dan Washington. Rancangan laporan tersebut dimulai dengan komitmen terhadap penghentian permusuhan secara permanen dan segera di semua lini, termasuk Lebanon.
Perjanjian ini juga mencakup ketentuan yang mengharuskan Amerika Serikat untuk menghormati kedaulatan Iran dan menahan diri dari campur tangan dalam urusan dalam negeri Iran.
Berdasarkan proposal tersebut, blokade laut yang diberlakukan terhadap Iran akan dicabut dalam waktu 30 hari, sementara Selat Hormuz akan dibuka kembali berdasarkan pengaturan Iran pada periode yang sama.
Rancangan tersebut selanjutnya menyerukan penarikan pasukan Amerika yang dikerahkan di sekitar Iran dan penangguhan sanksi yang menargetkan ekspor minyak Iran, sektor petrokimia dan akses terhadap sumber daya keuangan. Salah satu ketentuan paling penting dilaporkan mengharuskan Amerika Serikat dan sekutunya untuk menyajikan rencana rekonstruksi Iran senilai tidak kurang dari 300 miliar dolar AS.
Memorandum tersebut juga mengusulkan periode negosiasi 60 hari yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan akhir yang berfokus pada masalah nuklir dan pencabutan sanksi AS, internasional, dan PBB secara komprehensif, menurut Mehr.
sumber : Antara/Fitriyan Zamzami

2 hours ago
2

















































