REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kemunculan terbaru prototipe pesawat siluman J-36 kembali memunculkan pertanyaan besar: apakah pesawat tanpa ekor dan bermesin tiga tersebut kelak akan menjadi pesawat tempur paling berbahaya yang pernah dimiliki China?
Jawabannya belum dapat dipastikan. J-36 memang memperlihatkan kombinasi desain siluman, ruang internal besar, dan potensi jangkauan jauh yang tidak ditemukan pada pesawat tempur China sebelumnya. Namun, pesawat itu masih berada dalam tahap pengujian. Beijing belum mengungkap spesifikasi mesin, sensor, persenjataan, jarak jelajah maupun tingkat kemampuan silumannya.
Karena itu, menyebut J-36 sebagai pesawat tempur paling berbahaya milik China pada saat ini akan terlalu dini. Akan tetapi, apabila kemampuan yang diperkirakan para analis benar-benar diwujudkan, J-36 berpotensi menjadi platform udara China dengan konsekuensi strategis paling besar di kawasan Indo-Pasifik.
Penyempurnaan Desain Kembali Terlihat
Media pertahanan Defence Security Asia pada Senin, 13 Juli 2026, melaporkan gambar terbaru J-36 memperlihatkan penyempurnaan pada bentuk saluran masuk udara dan profil aerodinamikanya. Perubahan tersebut dinilai dapat meningkatkan pengelolaan aliran udara, mengurangi pantulan radar, dan mendukung operasi berkecepatan tinggi dalam jarak jauh. Namun, penilaian itu merupakan analisis berdasarkan bentuk fisik pesawat, bukan data teknis yang diterbitkan pemerintah China.
J-36 merupakan sebutan tidak resmi yang muncul setelah nomor “36011” terlihat pada prototipe pertamanya. Pesawat tersebut diyakini dikembangkan Chengdu Aircraft Corporation dan pertama kali terlihat terbang di Chengdu pada 26 Desember 2024. Bentuknya sangat berbeda dibandingkan J-20, pesawat tempur siluman generasi kelima yang telah dioperasikan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China.
Pesawat itu menggunakan badan lebar dengan sayap delta ganda, tidak memiliki ekor vertikal, dan ditenagai tiga mesin. Dua mesin memperoleh udara dari saluran masuk di bagian bawah atau samping badan, sedangkan mesin ketiga menggunakan saluran udara di punggung pesawat.
Konfigurasi tiga mesin merupakan salah satu karakter paling menonjol. Pilihan tersebut berpotensi menyediakan tenaga besar untuk membawa bahan bakar, sensor, dan persenjataan dalam jumlah banyak. Namun, tiga mesin juga membawa konsekuensi berupa bobot, konsumsi bahan bakar, panas, dan kerumitan teknis yang lebih besar.
Prototipe berikutnya memperlihatkan perubahan besar pada saluran masuk udara, roda pendarat, dan nosel pembuangan mesin. Defence Security Asia menilai proses tersebut menunjukkan program J-36 bergerak melalui pengujian berulang untuk mencari keseimbangan antara kemampuan siluman, kestabilan, kelincahan, dan efisiensi penerbangan.

4 hours ago
3














































