DIREKTUR Utama Kawasan Ekonomi Khusus Industropolis Batang, Jawa Tengah, Agung Putu Ngurah Wirawan mengatakan bahwa KEK Industropolis Batang telah mencatat investasi sebesar US$ 1,3 miliar dan menyerap sekitar 11 ribu tenaga kerja langsung. Ia menyebut tingginya minat investor terhadap kawasan itu terlihat dari penjualan lahan industri yang melampaui rata-rata kawasan industri nasional.
“Pada 2024, penjualan lahan di KEK Industropolis Batang mencapai 104 hektare, dan pada 2025 telah mencapai 97 hektare,” kata Agung melalui keterangan tertulis pada Rabu, 27 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut dia, angka itu jauh di atas rata-rata penjualan kawasan industri pada umumnya yang hanya berkisar 15–20 hektare per tahun, serta menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap potensi dan daya saing KEK Industropolis Batang.
Pemerintah Indonesia mempromosikan peluang investasi KEK Industropolis Batang kepada komunitas bisnis Hungaria melalui forum bertajuk Indonesia’s New Economic Frontier: Investing in Batang Integrated Estate and Health Special Economic Zone. Delegasi Indonesia dipimpin Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Rizal Edwin Manansang.
Dalam forum tersebut, kata Rizal, pemerintah menawarkan peluang investasi di sektor industri, kesehatan, energi hijau hingga teknologi digital. Selain KEK Industropolis Batang, pemerintah juga memperkenalkan KEK Sanur, KEK Pariwisata dan Kesehatan Internasional Batam, serta KEK Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional Banten kepada pelaku usaha Hungaria melalui forum dan pertemuan bisnis langsung (one-on-one business meeting).
Rizal berujar bahwa KEK dikembangkan sebagai bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional melalui ekosistem industri terintegrasi, insentif investasi, dan konektivitas kawasan Indo-Pasifik. “Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, kami mengundang dunia usaha internasional tidak hanya untuk menyaksikan transformasi Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan tersebut,” ujarnya.
Ia juga menyebut Indonesia dan Hungaria memiliki peluang kerja sama di sektor kesehatan, farmasi, sains, dan inovasi. Menurut Rizal, Hungaria memiliki kekuatan di bidang riset farmasi, sedangkan Indonesia menawarkan pasar dan infrastruktur untuk investasi jangka panjang.


















































