Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Maruf Amin di pembukaan Munas XI MUI di Ancol, Kamis (20/11/2025).
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Mantan Wakil Presiden RI, Prof KH Ma’ruf Amin menegaskan pentingnya menghadirkan kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) yang mampu melakukan ishlah atau perbaikan serta mendamaikan berbagai perbedaan. Menurutnya, pemimpin NU tidak cukup hanya memiliki kemampuan organisatoris.
“Seorang yang menjadi pemimpin NU harus mampu melakukan ishlah, mampu melerai pertikaian dan perbedaan, serta mampu menghadirkan kedamaian,” ujar Kiai Ma’ruf dalam kegiatan Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi yang digelar di Gedung MPR RI, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Menurut dia, karakter ishlah menjadi penting karena NU merupakan organisasi besar yang menaungi berbagai kelompok dan elemen masyarakat. Karena itu, pemimpin NU harus mampu menjadi perekat ketika terjadi perbedaan dan mengutamakan kepentingan bersama.
Dia juga mengingatkan agar kepemimpinan NU senantiasa mendahulukan kemaslahatan organisasi daripada kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Kepemimpinan selanjutnya harus mampu menggerakkan organisasi dengan semangat perjuangan dan pengabdian,” ucapnya.
Kiai Ma’ruf menegaskan, NU tidak boleh hanya dipahami sebagai wadah berkumpul. Sejak awal, NU memiliki orientasi besar dalam memperjuangkan keadilan, keamanan, perbaikan kehidupan masyarakat, serta menghadirkan kemaslahatan.
“NU bukan hanya sekadar kumpul-kumpul, tetapi membawa pergerakan besar, baik dalam persoalan agama dan kemasyarakatan, ekonomi, politik, sosial, kebudayaan, kemanusiaan, maupun kebangsaan,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong agar NU terus menggaungkan semangat gerakan dan pengabdian. Menurutnya, aktivitas NU tidak boleh berhenti pada urusan internal organisasi, tetapi harus mampu menghadirkan perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

5 hours ago
2














































