Mengapa BI Anggap Nilai Tukar Rupiah Undervalued

4 hours ago 2

GUBERNUR Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut nilai tukar rupiah yang saat ini bertahan di level 17.000 per dolar Amerika Serikat telah undervalued. Undervalued adalah kondisi ketika nilai mata uang lebih rendah atau lebih murah dari fundamentalnya, saat kinerja ekonomi masih kuat.

“Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang telah undervalued dibanding fundamentalnya,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur, Rabu, 22 April 2026. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sampai Senin pagi, 27 April 2026, rupiah masih bertengger di atas 17.200 per dolar Amerika. Pada pekan lalu, rupiah bahkan sempat anjlok ke 17.315 dan menjadi level terendah sepanjang masa.

Lantas mengapa rupiah mengalami undervalued? Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyatakan ada jarak yang lebar antara nilai rupiah yang ada di pasar saat ini dengan harga seharusnya menurut hitungan fundamental ekonomi. 

Josua mengukur angka fundamental rupiah berdasarkan indikator nilai wajar. Berdasarkan hitungan nilai wajar, 1 US$ sekitar Rp 16.407 pada Maret 2026. Saat itu, nilai tukar efektif riil atau Real Effective Exchange Rate (REER) rupiah berada di level 93,5. Sehingga rupiah dinilai lebih murah 3,1 dibandingkan nilai wajarnya, atau sekitar 500 poin dari posisi rata-rata Maret.

Namun, karena rupiah kini sudah bergerak di sekitar 17.295–17.300 per US$ saat ini, maka selisih terhadap nilai wajar Rp16.407 melebar menjadi sekitar 5,4 persen. Atau ada jarak sekitar 890 per US$.

Dengan pendekatan yang lebih konservatif, Josua memperkirakan fundamental rupiah saat ini mestinya berada di sekitar 16.300–16.600 per US$. Sehingga jarak antara nilai seharusnya dengan level rupiah saat ini telah mencapai kisaran 4–6 persen.

Namun, menurut Josua, rupiah yang undervalued tidak otomatis akan dengan mudah menguat. “Pasar saat ini tidak hanya menilai fundamental, tetapi juga risiko,” ujarnya. 

Rupiah melemah karena kombinasi harga minyak yang tinggi, ketegangan di Timur Tengah, kebutuhan dolar domestik untuk impor dan repatriasi dividen, serta kekhawatiran terhadap beban fiskal akibat subsidi energi. Pada Kamis lalu rupiah terperosok ke atas 17.300 terjadi bersamaan dengan harga minyak dunia yang masih tinggi atau di kisaran US$ 104 per barel. Berbarengan pula dengan permintaan dolar musiman, dan kekhawatiran investor terhadap dampak harga minyak pada subsidi energi. 

Menurut Josua, klaim BI bahwa rupiah saat ini undervalued cukup beralasan, tetapi harus dibaca dengan hati-hati. Meskipun rupiah secara perhitungan riil terlihat terlalu murah, pasar masih mengukur risiko. “Pasar masih meminta premi risiko yang besar, sebelum bersedia membawa rupiah kembali ke kisaran fundamentalnya.”

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |