MUI: Hati-Hati Dipecah Isu Sunni-Syiah Terkait Serangan ke Iran

1 hour ago 1

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Prof. Sudarnoto Abdul Hakim.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Serangan ilegal yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran diwarnai maraknya unggahan soal seteru paham Sunni dan Syiah di media sosial tanah Air. Ketua MUI Bidang Luar Negeri Prof Sudarnoto Abdul Halim meminta warga jangan sampai terpancing unggahan yang bertujuan memecah belah tersebut.

Narasi tersebut muncul tak lama setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap aset-aset Amerika Serikat di negara-negara Teluk seperti Bahrain, UEA, Kuwait, dan Saudi. Narasi yang beredar, Iran tak perlu didukung dan dibela karena menganut Islam Syiah.

“Saya sudah lama menyampaikan isu Syiah-Sunni itu sama sekali tidak relevan untuk Indonesia. Ini adalah kisah lama, kisah klasik pada abad ke-7 atau ke-8 di sana,” ujar Sudarnoto kepada Republika, Kamis (13/3/2026).

Ia mengatakan, isu perpecahan yang digaungkan belakangan harus menjadi perhatian serius bagi masyarakat sipil, ormas Islam dan termasuk juga pemerintah. Jangan sampai hal ini menjadi kontraproduktif di Indonesia 

“Yang kedua, isu ini (AS-Israel serang Iran) bukan soal isu agama. Isu ini adalah isu kedaulatan yang dirusak oleh sebuah kekuatan besar yang namanya Amerika. Pelanggaran yang  juga merembet kepada pelanggaran terhadap kedaulatan hukum, kedaulatan kehidupan, bahwa orang harus hidup layak dan sebagainya, karena itu kita concern.”

Ia mengingatkan umat Islam bahwa musuh bersama itu adalah penghancuran terhadap kedaulatan, bukan Syiah. “Jadi saya mohon untuk siapa saja untuk menenangkan diri, untuk bersabar, jangan terpancing dengan soal-soal itu. Itu yang akan dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan di luar.”

“Itulah makanya, saya sampaikan di pernyataan di MUI mengingatkan betul, jangan sampai kita mau diadu domba. Ini penting, karena situasi yang emosional saat ini memang memberikan ruang bagi siapa saja yang ingin memanfaatkan dan mengeksploitasi, memanfaatkan emosi ini menjadi sesuatu yang destruktif.”

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |