Nuklir, Ukraina, Iran: Dunia Sedang Kehilangan Remnya

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Langit di sejumlah kawasan dunia belakangan seperti tak pernah benar-benar sepi. Drone melintasi perbatasan, rudal jarak jauh mengaburkan batas antara perang lokal dan keterlibatan kekuatan besar, sementara kapal-kapal perang terus bermanuver di perairan strategis. Di sekitar Taiwan, Selat Hormuz, Ukraina, hingga Timur Tengah, dunia seperti sedang belajar hidup berdampingan dengan ketegangan yang tak kunjung selesai. Dari Moskow, sinyal-sinyal nuklir pun semakin sering terdengar terbuka.

Di tengah suasana itu, sebuah istilah lama kembali beredar dengan mudah: Perang Dunia III. Pertanyaannya, apakah dunia benar-benar sedang bergerak menuju perang global, atau justru menghadapi sesuatu yang lebih rumit, keretakan tatanan internasional yang selama puluhan tahun membuat kekuatan-kekuatan besar tetap mengetahui kapan harus berhenti?

Tiga pemikir hubungan internasional yang menulis hampir bersamaan pada awal September 2026 menawarkan jawaban berbeda, tetapi saling melengkapi. Fyodor Lukyanov melihat persoalan dari psikologi penangkalan nuklir, Leon Hadar membacanya dari keretakan tatanan dunia, sedangkan Trita Parsi menunjukkan bagaimana inkonsistensi kebijakan nuklir dapat membuat diplomasi semakin kehilangan daya.

Lukyanov, pemimpin redaksi Russia in Global Affairs sekaligus Direktur Riset Valdai International Discussion Club, memusatkan perhatian pada sesuatu yang selama beberapa dekade menjaga dunia dari perang besar: rasa takut terhadap kehancuran nuklir. Hadar, analis politik internasional yang menulis di Asia Times, justru mengingatkan agar ketakutan itu tidak berubah menjadi alarmisme yang menganggap setiap konflik regional sebagai jalan menuju Perang Dunia III.

Parsi, salah satu pendiri dan Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, membawa perdebatan tersebut ke medan yang lebih konkret. Ia menyoroti kesepakatan nuklir Amerika Serikat dengan Arab Saudi dan mempertanyakan mengapa teknologi pengayaan uranium yang selama puluhan tahun ditolak untuk Iran justru dapat diberikan kepada Riyadh dengan ketentuan pengawasan yang dinilainya lebih longgar.

Ketiga pemikir itu berangkat dari tiga pintu yang berbeda, tetapi tiba pada kegelisahan yang hampir sama. Dunia mungkin belum berada di ambang Perang Dunia III, tetapi mekanisme yang dahulu membuat negara-negara berhenti sebelum mengambil langkah terlalu jauh sedang mengalami tekanan yang semakin berat.

Ketika Ketakutan Menjaga Perdamaian

Lukyanov memulai analisanya dari sebuah paradoks yang selama puluhan tahun menjadi fondasi keamanan global. Senjata nuklir diciptakan sebagai instrumen perang, tetapi daya hancurnya yang luar biasa justru membuatnya berfungsi sebagai salah satu alat terpenting untuk mencegah perang terbesar.

Pada masa Perang Dingin, Washington dan Moskow memahami bahwa konfrontasi langsung dapat menghasilkan kehancuran bersama. Karena itu, di balik berbagai perjanjian, konferensi perlucutan senjata, lembaga internasional, dan bahasa diplomasi mengenai “stabilitas strategis”, terdapat sebuah mekanisme yang jauh lebih sederhana: ketakutan terhadap konsekuensi perang nuklir.

Lukyanov merumuskannya secara ringkas ketika menulis, “Kekuatan-kekuatan besar saling menahan satu sama lain dan, dengan demikian, menahan diri mereka sendiri.” Kalimat itu menggambarkan bagaimana rasa takut terhadap kehancuran bersama membuat ambisi geopolitik memiliki batas.

Konsep yang kemudian dikenal sebagai mutual assured destruction atau kehancuran bersama yang terjamin memang mengandung paradoks yang mengerikan. Namun, selama puluhan tahun, kemungkinan bahwa tidak akan ada pihak yang benar-benar menang dalam perang nuklir membuat negara-negara pemilik senjata nuklir jauh lebih berhati-hati terhadap kemungkinan konfrontasi langsung.

Masalahnya, menurut Lukyanov, mekanisme psikologis itu kini mulai terkikis. Elite politik dan masyarakat internasional semakin terbiasa menyaksikan perang berkepanjangan, perang proksi, serangan lintas batas, operasi siber, penggunaan drone, tekanan ekonomi, dan perang informasi sebagai bagian dari hubungan antarnegara.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |