Paradoks Terbesar Perang Ukraina: Semakin Berlangsung, Kian Sulit Mengabaikan Putin

18 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Empat tahun lebih perang Ukraina telah mengubah wajah geopolitik dunia. Ketika tank Rusia melintasi perbatasan pada Februari 2022, banyak pihak meyakini konflik ini akan berakhir dengan cepat. Sebagian memperkirakan Rusia akan menaklukkan Ukraina dalam hitungan minggu. Sebagian lain percaya sanksi ekonomi Barat akan segera melumpuhkan Kremlin dan memaksa Presiden Vladimir Putin mundur. Kenyataannya, kedua prediksi itu meleset.

Hari ini perang masih berlangsung. Ribuan nyawa telah hilang. Kota-kota hancur. Triliunan dolar telah terkuras. Namun satu pertanyaan yang dahulu dianggap tabu kini mulai terdengar semakin sering di ibu kota-ibu kota Eropa: apakah perang ini pada akhirnya dapat diakhiri tanpa berbicara dengan Vladimir Putin?

Pertanyaan tersebut menandai perubahan psikologis yang penting. Selama bertahun-tahun, strategi utama Barat adalah mengisolasi Putin secara politik, ekonomi, dan diplomatik. Kini, sebagian kalangan mulai mengakui bahwa mengakhiri perang mungkin memerlukan sesuatu yang selama ini dihindari: negosiasi langsung dengan Kremlin.

Pandangan ini tercermin dalam tulisan Sylvie Kauffman di Le Monde. Menurutnya, Eropa mulai memasuki fase baru. Bukan karena mereka mempercayai Putin, melainkan karena mereka memahami bahwa setiap perang pada akhirnya berakhir di meja perundingan. Bagi Kauffman, pertanyaannya bukan lagi apakah Eropa harus berbicara dengan Putin, melainkan siapa yang akan berbicara, untuk tujuan apa, dan dari posisi kekuatan seperti apa.

Pandangan tersebut lahir dari perubahan situasi di lapangan. Ukraina memang belum berhasil mengusir Rusia dari seluruh wilayah yang diduduki. Namun Ukraina juga tidak runtuh seperti yang diprediksi banyak pihak pada awal perang. Dukungan finansial dan militer Eropa membuat Kyiv tetap bertahan. Bahkan dalam beberapa aspek teknologi militer, Ukraina mampu memberikan tekanan yang tidak kecil terhadap Rusia.

Di sisi lain, Rusia juga tidak tampil sebagai pemenang mutlak. Ekonomi Rusia memang masih bertahan, tetapi harus menanggung biaya perang yang sangat besar. Mobilisasi militer yang berkepanjangan menguras sumber daya dan menciptakan tekanan sosial yang terus meningkat. Rusia belum kalah, tetapi kemenangan yang cepat dan menentukan juga tidak pernah datang.

Di sinilah analisis Hakki Ocal menjadi menarik. Ia menggunakan metafora "jalur penyelamat truk" yang tersedia bagi kendaraan yang kehilangan kendali di jalan menurun. Menurutnya, Putin membutuhkan jalur semacam itu. Semakin lama perang berlangsung, semakin besar energi politik, ekonomi, dan sosial yang harus dikeluarkan Rusia. Pada titik tertentu, bahkan negara yang kuat pun membutuhkan jalan keluar yang terhormat.

Ocal tidak melihat Putin sebagai pemimpin yang sedang menuju kemenangan besar. Sebaliknya, ia menggambarkan Kremlin sebagai pengemudi yang harus segera menemukan jalur pelarian sebelum kerusakan yang lebih besar terjadi. Dalam pandangan ini, tantangan terbesar Putin bukan hanya memenangkan perang, tetapi mengakhiri perang tanpa kehilangan muka di hadapan publik Rusia.

Namun tidak semua pengamat menerima asumsi bahwa Rusia sedang menuju titik lemah. Tarik Cyril Amar menawarkan kritik yang sangat berbeda. Menurut sejarawan yang berbasis di Jerman tersebut, Barat selama ini terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai "Russophrenia", kondisi ketika Rusia secara bersamaan digambarkan sebagai negara yang hampir runtuh sekaligus ancaman eksistensial bagi seluruh Eropa.

Dalam narasi Barat, Rusia sering kali digambarkan sedang mengalami kehancuran ekonomi, kekurangan sumber daya, dan menghadapi krisis internal. Namun pada saat yang sama, Rusia juga disebut siap menyerbu negara-negara NATO dan mengguncang keamanan seluruh benua. Bagi Amar, dua narasi tersebut sulit dipertahankan secara logis pada saat yang bersamaan.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |