Pelemahan PMI Manufaktur Tak Ganggu Investasi di KEK

5 hours ago 8

KEMENTERIAN Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan pelemahan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia tidak memengaruhi minat investor untuk berinvestasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan investasi yang masuk ke KEK masih menunjukkan tren positif. Menurut dia, penurunan PMI manufaktur menjadi 46,9 pada Juni 2026 tidak bisa dijadikan indikator tunggal untuk menilai prospek investasi di kawasan tersebut.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"KEK tidak seluruhnya bergerak di sektor manufaktur. Dari 25 KEK yang ada, hanya 13 yang berbasis manufaktur, sedangkan sisanya bergerak di sektor jasa dan sektor lainnya," kata Susiwijono dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin, 6 Juli 2026.

Susiwijono menjelaskan, PMI manufaktur menggambarkan kondisi aktivitas industri dalam jangka pendek, sedangkan keputusan investasi memiliki tolok ukur yang kompleks. Menurut dia, investor yang masuk ke KEK umumnya baru merealisasikan pembangunan pabrik dan fasilitas produksi dalam dua hingga tiga tahun setelah investasi diputuskan.

"PMI merupakan indeks bulanan yang juga mencerminkan ekspektasi beberapa bulan ke depan. Sementara yang kami bicarakan adalah investasi riil yang sudah mengantre masuk ke kawasan ekonomi khusus," ujarnya.

Ia mengatakan mayoritas investasi manufaktur di KEK berasal dari berbagai sektor, mulai dari industri pengolahan mineral, elektronik, tekstil, furnitur, alas kaki, hingga industri baterai kendaraan listrik.

Sebagai contoh, KEK Galang Batang berfokus pada industri pengolahan bauksit menjadi alumina. Sementara KEK Kendal menampung beragam industri manufaktur, seperti peralatan rumah tangga, elektronik, tekstil, furnitur, alas kaki, hingga industri komponen baterai, termasuk anoda dan katoda.

Sebelumnya, Lembaga pemeringkat Standard & Poor’s Global (S&P) melaporkan PMI manufaktur Indonesia terkontraksi di level 46,9 pada Juni 2026. Posisi tersebut menurun dibandingkan Mei yang berada di level 50,0.

Penurunan pada Juni dipicu oleh turunnya permintaan atas barang manufaktur Indonesia. “Tingkat penurunan merupakan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025,” ucap ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, dikutip dari laporan S&P Rabu, 1 Juli 2026.

S&P menyebutkan manufaktur Indonesia menunjukkan kenaikan cukup besar pada rata-rata beban biaya. Tingkat inflasi harga input merupakan yang terbesar sejak bulan September 2013. Menurut Usamah, laju inflasi itu merupakan yang tertinggi kedua sepanjang sejarah dan mendorong kenaikan harga jual pabrik paling kuat dalam hampir 13 tahun.

Sementara itu, tren negatif permintaan mendorong perusahaan menurunkan output selama empat bulan berturut-turut dan paling tajam sejak bulan April 2025. Penurunan kebutuhan produksi dan permintaan juga menghambat pembangunan stok, sehingga stok barang jadi menurun selama dua bulan berjalan dan pada laju lebih cepat dibandingkan pada Mei.

Kondisi tersebut membuat produsen barang juga menurunkan jumlah tenaga kerja. S&P mencatat laju PHK pada Juni merupakan yang paling besar sejak September 2021. “Menanggapi keadaan ini, perusahaan menurunkan jumlah tenaga kerja dan aktivitas pembelian mereka besar-besaran, sementara inventaris juga menurun seiring melemahnya kondisi permintaan,” kata Usamah.

Anastasya Lavenia berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |