Mobil asal pabrikan China, Changan Deepal S07.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dominasi pabrikan Jepang di pasar otomotif nasional masih sangat kokoh. Namun, tekanan dari merek asal China kian terasa, terutama di segmen kendaraan listrik (EV) dan kelas menengah.
Data wholesales Januari–Maret 2026 menunjukkan merek Jepang masih menguasai sekitar 78,6 persen pangsa pasar dengan total penjualan 164.176 unit. Sementara merek China mengumpulkan 37.203 unit atau sekitar 17,8 persen pangsa pasar, menurut data Gaikindo yang dikutip Republika.
Meski tertinggal jauh, tren menunjukkan pergerakan yang menarik. Pada Maret saja, pangsa pasar Jepang turun menjadi sekitar 76,5 persen, sedangkan China naik ke 18,7 persen. Ini menandakan adanya pergeseran perlahan di pasar.
Brand Jepang tetap menguasai pasar otomotif Indonesia secara kuat di Q1 2026, tapi jika pola ini berlanjut, pangsa China berpotensi menembus 20 persen dalam waktu dekat.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai tekanan tersebut mulai terasa di sejumlah segmen.
“China belum akan menggeser popularitas mobil Jepang di segmen SUV entry level, MPV entry level dan LCGC konvensional dalam tiga sampai lima tahun ke depan,” kata Yannes.
Namun, ia menegaskan, perubahan sudah terjadi di segmen strategis. Merek China mulai kuat di EV, SUV, dan hatchback kelas menengah.
Fenomena ini tidak lepas dari faktor ekonomi. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat kendaraan listrik semakin menarik bagi konsumen.
“Harga BBM yang mahal membuat biaya operasional EV entry level terlihat jauh lebih hemat. Tren ini akan semakin menguat di kota besar,” ujar Yannes.
sumber : Antara

2 hours ago
2














































