REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping bukan sekadar agenda bilateral biasa. Di tengah memanasnya konflik geopolitik global, pertemuan itu dinilai menjadi simbol pertarungan arah tata dunia baru antara dua kekuatan terbesar dunia.
Tiga penulis dari media internasional menghadirkan pembacaan yang berbeda mengenai pertemuan tersebut. Namun di balik perbedaan sudut pandang itu, terdapat satu benang merah yang sama: rivalitas Amerika Serikat dan China kini telah melampaui urusan perdagangan, dan berkembang menjadi perebutan pengaruh global yang menyentuh energi, militer, teknologi, hingga masa depan sistem internasional.
Penulis Rusia David Narmania dalam tulisannya di RIA Novosti melihat Trump datang ke Beijing dalam posisi yang melemah. Menurut dia, berbagai tekanan domestik dan kegagalan strategi luar negeri Washington membuat posisi tawar AS tidak sekuat sebelumnya.
“Trump menuju China bukan sebagai pemenang, tetapi sebagai pemimpin yang memulai perang yang tidak memiliki jalan keluar yang baik,” tulis Narmania.
Dia menyoroti bagaimana perang tarif AS-China tidak menghasilkan dampak sebesar yang diharapkan Washington. Defisit perdagangan AS disebut nyaris tidak berubah, sementara beban tarif justru ikut ditanggung konsumen domestik Amerika.
Ia juga menilai kegagalan operasi AS terhadap Iran memperumit posisi geopolitik Washington karena Teheran kini memiliki pengaruh lebih besar terhadap Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Dalam pandangan Narmania, kondisi itu menciptakan momentum strategis bagi Beijing. China dinilai memiliki peluang lebih besar untuk mendorong kompromi internasional yang lebih menguntungkan kepentingannya, terutama ketika AS sedang menghadapi tekanan ekonomi, politik domestik, dan tantangan geopolitik secara bersamaan.
Pandangan berbeda datang dari analis Turki Nedret Ersanel melalui tulisannya di Yeni Şafak. Ersanel melihat hubungan AS-China bukan lagi sekadar hubungan dagang yang saling bergantung, melainkan kompetisi strategis global yang hampir mustahil dihindari.
“Persaingan AS-Tiongkok menunjukkan penyebarannya ke setiap wilayah di dunia dalam hal pengaruh global, kekuatan militer, dan tata kelola global,” tulis Ersanel. “Ada perang di setiap lini.”
Menurut dia, perang Ukraina, konflik Iran, isu Taiwan, hingga rivalitas di Indo-Pasifik sesungguhnya saling terhubung dalam perebutan pengaruh global antara Washington dan Beijing. Ersanel menilai dunia kini memasuki fase baru ketika persaingan dua kekuatan besar tidak lagi terbatas pada medan perang tradisional, tetapi juga menyebar ke energi, teknologi, rantai pasok, hingga ruang angkasa.

3 hours ago
3
















































