Perum Jasa Tirta II (PJT II) menyiapkan berbagai langkah mitigasi kekeringan menjelang musim kemarau 2026 guna memastikan pasokan air irigasi tetap aman bagi sektor pertanian.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perum Jasa Tirta II (PJT II) menyiapkan berbagai langkah mitigasi kekeringan menjelang musim kemarau 2026 guna memastikan pasokan air irigasi tetap aman bagi sektor pertanian. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
Direktur Utama PJT II, Imam Santoso, mengatakan perusahaan terus memperkuat kesiapsiagaan operasional di wilayah layanan Daerah Irigasi Jatiluhur yang memiliki cakupan sekitar 503.713 hektare.
Menurut dia, ketersediaan air di Waduk Ir. H. Djuanda dipastikan masih mencukupi hingga akhir 2026.
“Kami terus melakukan pemantauan hidrologi secara intensif, pengelolaan distribusi air secara terukur, serta menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk menghadapi potensi kekeringan di sejumlah wilayah layanan. Sebagai perusahaan pengelola sumber daya air, penanganan kekeringan menjadi salah satu prioritas operasional yang kami lakukan melalui langkah-langkah preventif sejak dini,” ujar Imam.
PJT II sebelumnya melakukan inventarisasi berbagai tantangan di sejumlah wilayah kerja, mulai dari sedimentasi, gangguan sistem suplesi, hingga potensi kerusakan bendung untuk mempercepat langkah penanganan maupun pencegahan.
Di lapangan, perusahaan menerapkan pengaturan operasional pintu air pada saluran sekunder terdampak serta pola distribusi air secara gilir-giring guna menjaga pemerataan layanan bagi para petani.
Selain itu, PJT II juga memperkuat kesiapan sarana dan prasarana sumber daya air melalui peningkatan kesiapsiagaan pompa serta pembersihan gulma dan sampah pada saluran irigasi agar aliran air tetap lancar.
“Pendekatan ini juga menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menjaga kelancaran layanan irigasi sekaligus meminimalkan potensi konflik pemanfaatan air selama musim kemarau melalui pengelolaan air yang adaptif dan responsif terhadap dinamika kondisi lapangan,” kata Imam.
PJT II juga meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah, Kementerian Pertanian, Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, TNI, Satpol PP, serta para petani di wilayah layanan irigasi.
Melalui koordinasi tersebut, informasi terkait jadwal distribusi air, pola gilir-giring, hingga kondisi debit air diharapkan dapat diterima petani secara lebih cepat sehingga pengelolaan kebutuhan air pertanian berjalan lebih terencana dan efektif.

1 hour ago
1















































