Polisi Periksa 5 Saksi di Kasus Siswa SMP Tewas di Sragen

9 hours ago 3

JAJARAN Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor atau Polres Sragen bersama Tim Inafis dan Kepolisian Sektor Sumberlawang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengungkapkan penyebab pasti kematian seorang siswa sekolah menengah pertama negeri di wilayah Kecamatan Sumberlawang, berinisial WAP, Selasa, 7 April 2026. Polisi memeriksa setidaknya lima saksi terkait kejadian tersebut. 

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sragen Ajun Komisaris Catur Agus Yudo Praseno mengatakan proses penyelidikan saat ini masih berlangsung. “Proses ini masih berlangsung. Kami melakukan pemeriksaan saksi-saksi yang melihat kejadian untuk memperjelas gambaran situasi di TKP,” ujar Catur kepada wartawan seusai olah TKP, Selasa.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Catur memastikan penyelidikan dilakukan secara profesional dan prosedural, termasuk melalui pendekatan ilmiah atau scientific crime investigation (SCI). Polisi juga menggandeng tim medis dan laboratorium forensik dari Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Polda Jateng) untuk mengumpulkan alat bukti.

Menurut Catur, meski polisi telah memeriksa lima orang saksi, tapi belum dapat menyimpulkan kronologi lengkap maupun motif kejadian. “Kami masih memadukan hasil olah TKP dengan keterangan saksi-saksi dan bukti ilmiah. Nanti akan kami rilis secara utuh setelah semua data lengkap,” ucapnya.

Sementara itu, kepala sekolah korban menuturkan diduga peristiwa bermula dari candaan antarsiswa sebelum akhirnya korban terjatuh. “Awalnya gojekan (bercanda) antar anak-anak. Kejadiannya di dekat tembok. Dari rekonstruksi, korban jatuh tersungkur mengenai sudut tembok,” kata kepala sekolah. 

Ia menjelaskan, korban sempat ditolong teman-temannya dan dibawa ke ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) sebelum akhirnya dirujuk ke puskesmas oleh guru. Ia mengungkap korban sempat dalam kondisi sadar saat perjalanan, namun kemudian dinyatakan meninggal dunia setibanya di puskesmas.

Peristiwa itu terjadi menjelang waktu istirahat kedua. Saat kejadian, kepala sekolah mengaku sedang bertugas di sekolah lain sebagai pelaksana tugas (PLT). Pihak sekolah menyatakan kejadian ini menjadi evaluasi besar, meskipun berbagai program pencegahan kekerasan dan perundungan telah diterapkan.

“Program anti-bullying, agen perubahan dari OSIS dan Pramuka, hingga kerja sama dengan kepolisian dan puskesmas sudah berjalan. Tapi kejadian ini tetap jadi evaluasi bagi kami agar ke depan tidak terulang,” ujarnya. 

Hingga kini, polisi masih terus mendalami penyebab pasti kematian korban sambil menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dari tim forensik.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |