REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus melemah hingga mencapai Rp18 ribu per dolar AS pada awal Juni 2026. Kondisi ini memicu efek domino yang signifikan terhadap perekonomian dan daya beli masyarakat, lantas bagaimana cara mengelola keuangan di tengah kondisi ekonomi yang memburuk?
Perencana keuangan sekaligus pendiri Mitra Rencana Edukasi (MRE), Mike Rini Soetikno, mengingatkan masyarakat untuk tidak panik. Menurutnya, langkah penting yang perlu dilakukan memperkuat dana darurat hingga melakukan evaluasi gaya hidup.
Untuk dana darurat, setidaknya memiliki dana yang setara 6 hingga 12 bulan pengeluaran. Bagi yang belum memiliki dana darurat, ia mendorong masyarakat untuk segera membangunnya dari sekarang.
"Kita harus bisa meningkatkan atau menyediakan emergency fund. Nah, emergency fund ini disarankan memang setidaknya punya 6 sampai 12 kali, kalau dalam kondisi ekonomi sedang tidak stabil seperti ini," kata Mike Rini saat dihubungi Republika, Senin (8/6/2026).
la mengingatkan bahwa dana darurat yang tidak memadai bisa membuat kondisi keuangan lebih rentan. Terutama ketika seseorang di PHK, pendapatan menurun, maupun mengalami gangguan kesehatan yang bisa muncul akibat stres finansial.
Dalam beberapa waktu terakhir, kenaikan harga akibat nilai tukar rupiah melemah telah terjadi. Kondisi ini menurut Mike, pada akhirnya berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat karena pendapatan tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Untuk itu, Mike menekankan pentingnya melakukan evaluasi pengeluaran dan gaya hidup. Dalam hal konsumsi misalnya, pekerja atau masyarakat bisa menyesuaikan pilihan sumber protein. Jika harga daging dirasa terlalu mahal, kebutuhan gizi bisa dipenuhi dengan ayam dan telur, atau lainnya yang sesuai dengan kondisi finansial.
"Kemarin saya dengar kalau di warteg itu sekarang lebih banyak orang yang lebih makan dengan lauk tahu atau tempe, sementara lauk seperti daging yang lebih mahal harganya itu menjadi kurang diminati. Tapi itu cara-cara yang saya kira wajar dilakukan masyarakat yang melihat situasi seperti ini," kata Mike.
Ketika kondisi ekonomi tidak stabil, Mike juga mengimbau masyarakat untuk benar-benar mengutamakan kebutuhan dan mengenyampingkan keinginan. Pengeluaran untuk jajan, membeli pakaian atau produk lain yang tidak krusial disarankan untuk ditunda atau dikurangi.
Tidak hanya itu, masyarakat juga dapat melakukan penghematan dalam penggunaan air dan listrik di rumah. Langkah sederhana tersebut dapat membantu menekan pengeluaran rutin sehingga lebih banyak dana yang dapat dialokasikan untuk tabungan maupun dana darurat.
"Jadi batasannya ada pada kebutuhan dan keinginan. Barang atau pengeluaran untuk memenuhi keinginan, harus dibatasi atau disesuaikan dengan kondisi finansial Anda. Lalu di rumah, Anda juga perlu menghemat misalnya air dan listrik," kata Mike.
Pengeluaran untuk nongkrong atau membeli kopi juga dinilai perlu untuk dievaluasi. Menurutnya, ada beberapa cara penghematan yang bisa dilakukan termasuk membuat kopi sendiri dari rumah.
Sebagai pencinta kopi, Mike mengaku mulai melakukan penyesuaian dengan membuat kopi sendiri di rumah. Menurutnya, membuat kopi sendiri di rumah jauh lebih hemat dibandingkan dengan membelinya di kafe.
"Kalau ditanya soal gimana sih caranya ngatur budget buat kopi. Memang ini kalau terus beli di kafe bengkak anggarannya. Kalau saya sendiri, tetap ngopi ya, tapi caranya bikin sendiri di rumah. Ini secara pengeluaran jauh sekali lebih murah daripada coffee shop," kata Mike.
Secara umum, kata Mike, ada tiga pendekatan yang dapat diterapkan untuk menekan pengeluaran yang bersifat keinginan dan tidak terlalu penting. Pertama, menyetop pengeluaran tersebut sepenuhnya apabila manfaatnya tidak signifikan.
Kedua, mengurangi pengeluaran, baik dengan menurunkan nilai transaksi maupun mengurangi frekuensinya. "Contohnya jika memang Anda punya kebiasaan work from cafe, sesuaikan aja. Jika sebelumnya dilakukan tiga kali dalam sepekan, frekuensinya dapat dikurangi menjadi satu kali sepekan untuk menghemat pengeluaran," ujar Mike.
Ketiga, mengganti kebiasaan tersebut dengan pilihan yang lebih hemat. Misalnya, memilih makanan dengan harga yang lebih terjangkau, membuat kopi sendiri di rumah, atau mencari opsi lain yang memberikan manfaat serupa dengan biaya lebih rendah.
"Seperti yang sudah disampaikan tadi, intinya evaluasi. Apapun itu wujudnya, silakan sesuaikan. Jangan sampai kita tidak melakukan evaluasi pengeluaran dan gaya hidup. Itu sangat krusial agar keuangan Anda tidak babak belur," kata Mike.

9 hours ago
7

















































