REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Volatilitas pasar keuangan masih membayangi perekonomian. Namun, sejumlah indikator menunjukkan fundamental ekonomi domestik tetap relatif terjaga sehingga peluang investasi dinilai masih terbuka bagi investor yang memiliki strategi jangka panjang.
Co-Founder Simpan Asset Management Nicholas Hilman mengatakan, tekanan yang terjadi di pasar keuangan lebih banyak dipengaruhi faktor nilai tukar dan aliran modal dibandingkan pelemahan fundamental ekonomi secara menyeluruh.
Menurut dia, rupiah telah melemah sekitar 15,6 persen terhadap dolar AS sejak Oktober 2024. Pada saat yang sama, kepemilikan investor asing pada obligasi pemerintah turun dari sekitar 23 persen menjadi 13 persen, sementara pasar saham mengalami koreksi yang mendorong valuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke salah satu level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
“Yang perlu diperhatikan investor adalah bahwa tekanan saat ini lebih terkonsentrasi pada sisi currency dan aliran modal, bukan pada fondasi ekonomi itu sendiri. Inflasi tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi masih stabil di sekitar 5 persen,” kata Nicholas, Kamis (18/6/2026).
Nicholas menjelaskan, tantangan juga datang dari sisi fiskal dan moneter. Realisasi penerimaan negara pada 2025 tercatat belum mencapai target, sementara belanja pemerintah terus meningkat. Di sisi lain, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin dalam dua bulan terakhir guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Cadangan devisa Indonesia juga turun dari sekitar 156 miliar dolar AS menjadi 145 miliar dolar AS seiring upaya stabilisasi rupiah. Meski demikian, Nicholas menilai kondisi tersebut belum mengubah fundamental ekonomi nasional secara signifikan.
Ia mengatakan, indikator internal yang digunakan perusahaan menunjukkan kondisi makroekonomi Indonesia masih berada pada zona yang relatif konstruktif. Menurut dia, pasar saat ini lebih banyak merespons ketidakpastian kebijakan dan faktor eksternal dibandingkan penurunan kinerja korporasi.
“Pasar sedang bereaksi terhadap ketidakpastian kebijakan, bukan terhadap keruntuhan fundamental. Ketika aset berada pada valuasi yang menarik dan kondisi makro masih relatif konstruktif, peluang investasi tetap terbuka,” ujarnya.
Nicholas menilai kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya strategi investasi yang aktif dan terdiversifikasi. Untuk menghadapi dinamika pasar, Simpan Asset Management menawarkan layanan Actively Managed Portfolio (AMP) yang mengelola portofolio reksa dana secara aktif pada instrumen saham, obligasi, dan pasar uang.
Sejak diluncurkan pada Januari 2026, AMP disebut mampu menekan dampak koreksi pasar. Di tengah penurunan IHSG yang mencapai sekitar 34,5 persen, portofolio AMP dengan profil risiko tertinggi mencatat penurunan sekitar 12 persen.
Selain itu, Simpan juga memiliki Simpan Dollar Bond Fund (DBF), yaitu produk investasi yang memberikan eksposur pada obligasi pemerintah dan korporasi berdenominasi dolar AS. Produk tersebut ditujukan untuk membantu investor menghadapi risiko pelemahan rupiah dalam jangka panjang.
Nicholas mengatakan, nilai tukar rupiah secara historis mengalami depresiasi rata-rata sekitar 5 persen per tahun dalam 15 tahun terakhir, sementara inflasi domestik berada di kisaran 3 persen. Karena itu, investor perlu mempertimbangkan diversifikasi aset untuk menjaga nilai investasinya.
Menurut dia, kombinasi instrumen berbasis rupiah dan dolar AS dapat menjadi salah satu strategi menghadapi ketidakpastian pasar sekaligus menangkap peluang pertumbuhan yang masih tersedia.
“Kami melihat kondisi saat ini bukan sebagai krisis, melainkan fase penyesuaian yang memerlukan strategi investasi yang disiplin. Yang perlu dihindari adalah keputusan yang didorong kepanikan ataupun mengabaikan risiko yang ada,” kata Nicholas.

1 hour ago
3
















































