Sirah Nabawiyah untuk Zaman Kita

4 hours ago 3

Oleh: Ustadz Fahmi Salim, Presidium Majelis Arah Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Memperingati maulid Nabi pasti selalu identik dengan kata Sirah Nabawiyah. Tidak adil jika Sirah Nabawiyah direduksi menjadi kumpulan tanggal, nama, peperangan, hijrah, dan peristiwa sejarah. Sirah memang sejarah, tetapi ia adalah sejarah yang hidup.

Di dalamnya kita menyaksikan bagaimana wahyu membentuk manusia secara nyata: membentuk akal, akhlak, keluarga, masyarakat, kepemimpinan, bahkan peradaban. Al-Qur'an berbicara tentang sabar, keadilan, kasih sayang, keberanian, amanah, tawakal, dan pengorbanan; sirah memperlihatkan bagaimana nilai-nilai itu dijalankan dalam situasi nyata.

Karena itu, sirah dapat dipandang sebagai laboratorium sejarah bagi pembentukan manusia Qur'ani. Kita melihat bagaimana seorang anak yatim bernama Muhammad bin Abdullah tumbuh menjadi manusia terpercaya; bagaimana seorang yang ditindas tidak berubah menjadi penindas; bagaimana seorang pemenang tidak menjadi tiran; dan bagaimana seorang pemimpin tetap hidup bersahaja jauh dari kemewahan. Kemewahannya justru sebagai hamba Allah.

Sirah mempertemukan wahyu dengan realitas, idealitas dengan praksis, iman dengan kehidupan. Karena itu pula, sirah memiliki daya penyelamatan bagi manusia modern. Ia membebaskan manusia dari berbagai bentuk penghambaan baru: kepada materi, popularitas, kekuasaan, konsumsi, merek, dan penilaian manusia. Manusia boleh memiliki dunia, tetapi jangan sampai dunia memiliki dirinya.

Bagaimana Mencintai Rasulullah ﷺ Jika Tidak Mengenal Beliau?

Ada pertanyaan sederhana: bagaimana mungkin seseorang mencintai orang yang tidak ia kenal?

Cinta kepada Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari iman. Namun cinta yang matang tumbuh dari pengenalan. Semakin seseorang mengenal pribadi Rasulullah ﷺ, semakin ia memahami mengapa beliau layak dicintai.

Sirah memperkenalkan kepada kita manusia yang mengalami penderitaan sebagaimana manusia biasa, tetapi meresponsnya dengan keteguhan luar biasa. Beliau menghadapi penolakan Quraisy, pemboikotan, kehilangan Khadijah radhiyallahu 'anha dan Abu Thalib, perjalanan berat ke Thaif, hingga berbagai luka dalam perjuangan. Namun penderitaan tidak mengubah beliau menjadi manusia pendendam. Inilah keagungan akhlak kenabian.

Kita menemukan Nabi yang terluka tetapi tetap penyayang; ditolak tetapi tetap berdakwah; disakiti tetapi tetap mendoakan; memperoleh kekuasaan tetapi tetap rendah hati dan tidak abuse of power.

Maka membaca sirah adalah perjalanan dari mengenal menuju mencintai, dan dari mencintai menuju meneladani. Cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak boleh berhenti pada ekspresi emosional. Ia harus menjelma menjadi kesediaan mengikuti jalan hidup beliau.

Al-Qur'an dan Sirah: Wahyu yang Menjadi Kehidupan

Al-Qur'an adalah petunjuk yang sempurna. Namun manusia membutuhkan teladan untuk mengaktualisasikan petunjuk tersebut. Karena itu, Al-Qur'an, Sunnah, dan sirah memiliki hubungan yang tidak terpisahkan dalam memahami risalah Islam.

Ketika Aisyah radhiyallahu 'anha ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ, beliau menjawab: “Akhlak beliau adalah Al-Qur'an.” (HR. Muslim). Ya, Rasulullah ﷺ adalah Al-Qur'an yang berjalan di tengah kehidupan manusia.

Al-Qur'an berbicara tentang kesabaran; sirah menunjukkan kesabaran itu ketika beliau menghadapi Thaif. Al-Qur'an berbicara tentang tawakal; sirah memperlihatkan keteguhan beliau di Gua Tsur: “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40).

Al-Qur'an berbicara tentang rahmat; sirah memperlihatkan kelembutan beliau kepada keluarga, anak-anak, sahabat, dan masyarakat. Al-Qur'an berbicara tentang memaafkan; Fathu Makkah memperlihatkan bagaimana kemenangan tidak menjadikan beliau mabuk kekuasaan.

Karena itu, wahyu memberikan prinsip, Sunnah memberikan penjelasan, dan sirah memperlihatkan prinsip tersebut dalam kehidupan nyata.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |