Tak Mampu Deteksi J-20 China, AS Gelontorkan Rp25,3 Triliun untuk E-7

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Departemen Perang Amerika Serikat kembali mengalokasikan dana sebesar 1,55 miliar dolar AS untuk pengadaan pesawat sistem peringatan dini dan kendali udara (Airborne Early Warning and Control/AEW&C) E-7 Wedgetail pada tahun fiskal 2027. Keputusan ini membalikkan rencana Pentagon pada 2025 yang sempat ingin membatalkan program tersebut.

Sekretaris Angkatan Udara AS Troy Meink sebelumnya telah memberi tahu Komite Angkatan Bersenjata DPR bahwa pemerintah akan mengajukan tambahan anggaran sekitar 1,5 miliar dolar AS untuk program E-7. Dana itu terdiri atas 651 juta dolar AS yang dialihkan dari anggaran pengadaan pesawat Angkatan Laut dan 899 juta dolar AS dari pos pengadaan Angkatan Udara, sehingga total mencapai 1,55 miliar dolar AS.

Perubahan prioritas anggaran ini menunjukkan semakin besarnya fokus Washington pada modernisasi kemampuan Angkatan Udara. Sebaliknya, sejumlah program Angkatan Laut justru mulai tersisih, termasuk proyek pesawat tempur generasi keenam F/A-XX yang pendanaannya dihentikan demi memberi ruang bagi pengembangan pesawat tempur F-47 milik Angkatan Udara.

Pengadaan E-7 dinilai mendesak karena armada pesawat peringatan dini E-3 Sentry yang selama ini menjadi tulang punggung Angkatan Udara AS semakin menua. Tingkat kesiapan operasional E-3 terus menurun akibat usia pesawat, sementara biaya pemeliharaan meningkat setiap tahun.

Dorongan mempercepat pengadaan E-7 juga semakin kuat setelah China mengoperasikan pesawat AEW&C generasi baru KJ-500 dan KJ-3000. Kedua sistem tersebut dinilai menghadirkan kemampuan sensor udara yang jauh lebih modern dibandingkan armada lama milik Amerika Serikat, sebagaimana diberitakan Military Watch Magazine pada Kamis (24/6/2026).

Ketergantungan Angkatan Udara AS terhadap pesawat peringatan dini juga jauh lebih besar dibandingkan China maupun Rusia. Pesawat tempur kedua negara itu umumnya telah dibekali radar berukuran lebih besar dan berdaya jangkau lebih panjang. Sebagai contoh, radar yang digunakan pesawat tempur F-35 diperkirakan hanya sekitar sepertiga ukuran radar pada pesawat tempur China J-15B dan J-16.

Kebutuhan mengganti E-3 mulai mengemuka setelah Angkatan Udara AS berhadapan dengan pesawat tempur siluman J-20 milik China. Pada Maret 2022, Komandan Angkatan Udara Pasifik Jenderal Kenneth Wilsbach mengakui radar E-3 tidak lagi mampu mendeteksi pesawat siluman modern secara efektif.

"Sensor yang kami gunakan pada E-3 tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman abad ke-21, terutama platform siluman seperti J-20. Pesawat itu tidak dapat melihat target cukup jauh untuk memberikan keuntungan kepada pilot kami. Karena itulah saya ingin memiliki E-7," kata Wilsbach saat itu.

Urgensi modernisasi diperkirakan akan semakin meningkat seiring proyeksi China mengoperasikan pesawat tempur generasi keenam pertama di dunia pada awal dekade 2030-an.

Meski membawa kemampuan yang jauh lebih modern dibandingkan E-3, E-7 tetap menggunakan radar yang lebih kecil dibandingkan sistem AEW&C terbaru China. Ukuran radar E-7 lebih mendekati KJ-500, sementara China kini telah mengembangkan KJ-3000 yang memiliki kemampuan lebih tinggi.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |