REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktor Tom Holland angkat bicara mengenai pengaruh kecerdasan buatan terhadap industri film. Dalam wawancara terbaru dengan El Hormiguero, ia mengatakan Al tidak mampu memahami pengalaman dan emosi manusia, sehingga teknologi tersebut tidak bisa menggantikan kreativitas manusia.
"Kreativitas aman dari Al, karena kreativitas berkaitan dengan pengalaman manusia. Ini tentang emosi, ini tentang saling memahami," kata Holland seperti dilansir laman Variety, Kamis (18/6/2026).
Menurut bintang Spider-Man tersebut, Al memang memiliki kemampuan untuk mengolah dan menyaring data dalam jumlah besar. Akan tetapi, Al tidak mampu memiliki pemahaman emosional yang menjadi fondasi utama karya seni.
"Al dapat memfilter data, tetapi tidak dapat memahami emosi manusia. Al tidak memahami perbedaan antara bahagia dan sedih. Cara seniman melukis, bukan tentang apa yang mereka tiru, tetapi tentang mengekspresikan diri mereka sendiri. Jadi saya merasa terlindungi," jelas dia.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah persiapan Holland menghadapi musim panas yang sibuk di dunia perfilman. Aktor tersebut dijadwalkan tampil sebagai Telemachus dalam film epik The Odyssey garapan sutradara Christopher Nolan yang akan dirilis pada 24 Juli.
Setelah itu, dia akan kembali ke jagat sinematik Marvel melalui Spider-Man: Brand New Day yang dijadwalkan tayang pada 31 Juli. Zendaya turut membintangi kedua film tersebut.
Holland termasuk di antara banyak aktor dan sutradara yang menyuarakan kekhawatiran luas tentang Al di Hollywood. Sebelumnya, sutradara peraih Oscar, Guillermo del Toro, menyampaikan peringatan keras mengenai ancaman kecerdasan buatan (Al) terhadap masa depan perfilman.
Dalam acara BFI America, del Toro mengatakan bahwa industri saat ini berada di ambang buta huruf sinema seiring meningkatnya penggunaan Al dalam proses kreatif. "Kita di ambang buta huruf gambar. Kita di ambang buta huruf sinema," kata del Toro dalam pidatonya saat terpilih sebagai penerima penghargaan bergengsi BFI Fellowship.
Sutradara film Pan's Labyrinth, Hellboy, The Shape of Water, dan Frankenstein itu menilai perkembangan Al mulai menggerus proses penciptaan karya seni yang selama ini lahir dari pengalaman dan espresi manusia. Menurutnya, keinginan manusia untuk mengekspresikan diri telah ada sejak masa prasejarah, ketika gambar-gambar pertama dibuat di dinding gua. Karena itu, hubungan antara manusia dan citra visual memiliki nilai yang sakral.
"Perjanjian antara manusia dan gambar adalah sesuatu yang sakral," kata dia dilansir Variety.

1 hour ago
2
















































