Transformasi Nilai Menuju Abad Kedua Gontor

2 hours ago 6

Oleh: KH M Tata Taufik, Pengasuh Pesantren Al Ikhlash Kuningan Jawa Barat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seratus tahun perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor (1926-2026) bukan sekadar penanda usia sebuah lembaga pendidikan. Satu abad adalah bukti bahwa sebuah sistem pendidikan mampu melampaui perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Gontor tidak lahir sebagai museum tradisi, melainkan sebagai laboratorium peradaban yang terus menguji, memperbaiki, dan melahirkan inovasi pendidikan.  

Karena itu, peringatan satu abad Gontor semestinya tidak berhenti pada rasa syukur terhadap sejarah, tetapi menjadi momentum melakukan pembacaan ulang terhadap masa depan pesantren.

Pendiri Gontor membangun pesantren dengan keberanian intelektual. Mereka membaca kebutuhan zamannya, kemudian merumuskan sistem pendidikan yang berbeda. Keberanian itulah yang perlu diwarisi, bukan sekadar bentuk fisik atau tradisi seremonialnya.

Panca Jiwa sebagai Fondasi, Bukan Batas

Keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan merupakan lima jiwa yang telah menghidupi Gontor selama satu abad. Jiwa yang harus ada dalam pesantren tersebut   secara lebih luas dikomunikasikan K.H. Imam Zarkasyi dalam Seminar Pondok Pesantren se-Indonesia di Yogyakarta, 4 s/d 7 Juli 1965 itu kini tidak saja populer di Gontor, tapi dilembagakan dalam regulasi pesantren sebagaimana terbaca dalam Penjelasan Undang-Undang No.18 Tahun 2019 Tentang Pesantren.  

Kelima nilai tersebut bukan warisan yang selesai, melainkan energi yang harus terus diterjemahkan dalam konteks zaman. Demikian pula Motto Pondok Modern Daarussalam Gontor: Berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas tetap relevan, bahkan melampaui konsep empat pilar pendidikan UNESCO; Learning to Know (Belajar untuk Mengetahui), Learning to Do (Belajar untuk Melakukan), Learning to Live Together (Belajar untuk Hidup Bersama), Learning to Be (Belajar untuk Menjadi Diri Sendiri) yang baru dirumuskan tahun 1986. Perpaduan antara Panca Jiwa dan Motto Pesantren tersebut dikatakan relevan karena keduanya  lahir dari bumi Indonesia, bahkan jauh mendahului konsep UNESCO serta mampu memadukan dimensi intelektual, moral, sosial, dan spiritual secara utuh. 

Nilai-nilai itu menjadi identitas yang tidak berubah, sedangkan metode penyampaiannya harus terus berkembang.

Menjaga Ruh, Memperbarui Metode

Sejak awal kelahirannya Pondok Modern Gontor merupakan julukan atas inovasi pendidikan pesantren, terutama dalam hal metodologi pembelajarannya, serta pemaduan kurikulum yang mencakup ilmu agama Islam dan Ilmu umum secara bersamaan, dengan berani Gontor menyatakan bahwa Kurikulumnya 100% agama dan 100% umum. Selain itu yang lebih menonjol lagi dalam pengajaran bahasa, Gontor menjadikan Bahasa Arab dan Inggris sebagai materi wajib, lagi-lagi dengan inovasi metodologi pembelajaran yang melampaui zamannya. Walaupun metode pembelajaran bahasa ini menggunakan metode langsung (Ṭarīqah Mubāsyarah), tapi tidak hanya berhenti sampai di situ, Gontor juga menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran bahasa asing. Dengan istilah terkini di Gontor bukan mempelajari bahasa tapi mengajak semua warganya untuk menyelam dalam kehidupan kebahasaan yang sekarang disebut immersive language program atau Barnāmij inghimās lugawī. 

Kekuatan Gontor selama ini terletak pada metodologinya. Filosofi aṭ-ṭarīqah ahammu minal māddah, al-mudarris ahammu min aṭ-ṭarīqah, wa rūḥ al-mudarris ahammu minal mudarris menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal materi, tetapi tentang cara, pendidik, dan ruh yang menggerakkannya.  

Kini, tantangan abad kedua mengharuskan pesantren melangkah lebih jauh, yaitu memastikan bahwa seluruh proses pendidikan benar-benar menghasilkan keberhasilan santri. Artinya materi, metode, pendidik dan jiwa pendidik semuanya berorientasi pada kesuksesan santri dalam mencapai pendidikannya di pesantren. Untuk mengukuhkan filosofi pendidikan tersebut, bisa saja  ditambah dengan “Inna musā‘adata aṭ-ṭullābi ‘alā an-najāḥi fī taḥṣīli ta‘līmihim ahammu min ayyi syai’in ākhar.” Bahwa membantu santri dalam mencapai kesuksesan pendidikannya lebih penting dari segalanya. Orientasi memastikan peserta didik mendapatkan “bantuan” melalui berbagai pembinaan, dan asuhan serta kegiatan yang dibangun atas semangat pencapaian santri dalam mewujudkan tujuan pendidikannya di pesantren. Dengan demikian semangat inovasi seperti yang tergambar dari Al-muḥāfaẓatu ‘alā al-qiyami wat-tagayyuru ilā al-kamāl (menjaga nilai yang sudah ada dan menyempurnakannya)  yang mencerminkan gambaran semangat inovasi generasi kedua (penerus) menjadi nyata. 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |