88 Persen Pebisnis Ubah Strategi Modal Akibat Gejolak Global

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 88 persen pelaku usaha dan investor global mengubah strategi alokasi modal sebagai respons terhadap meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia. Gejolak geopolitik, tren kenaikan suku bunga global, hingga tekanan terhadap likuiditas perusahaan menjadi faktor yang mendorong perubahan tersebut.

HSBC mengutip hasil survei terhadap 3.000 pelaku usaha dan investor global yang menunjukkan 88 persen responden telah menyusun ulang alokasi modal untuk menghadapi volatilitas yang meningkat. Selain itu, 89 persen responden juga meningkatkan penempatan modal di pasar yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan lebih tinggi.

Country Head Global Trade Solutions HSBC Indonesia, Delia Melissa, mengatakan kondisi tersebut membuat akses terhadap modal kerja menjadi semakin penting, terutama bagi pelaku usaha yang ingin menjaga kelancaran usaha sekaligus memperluas pasar ekspor.

“Di tengah volatilitas yang meningkat, siklus pembayaran panjang, dan kenaikan biaya operasional, akses terhadap modal kerja kini telah menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga likuiditas dan pertumbuhan. Kemudahan akses modal kerja menjadi faktor krusial yang menentukan daya saing, khususnya bagi pebisnis Indonesia yang sedang ekspansi pasar ekspor,” ujar Delia dalam keterangannya, Kamis (25/6/2026).

Menurut HSBC, kebutuhan pembiayaan usaha juga meningkat di tengah aktivitas perdagangan Indonesia yang masih tumbuh positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indonesia mencapai 25,30 miliar dolar AS pada April 2026 atau naik 21,98 persen dibandingkan April tahun lalu. Pada periode yang sama, nilai impor meningkat 22,49 persen menjadi 25,21 miliar dolar AS.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, HSBC Indonesia meluncurkan HSBC TradeCash, layanan pembiayaan perdagangan (trade finance) yang memungkinkan pelaku usaha memperoleh modal kerja lebih cepat dengan mengajukan faktur penjualan (invoice) secara digital tanpa harus menyertakan dokumen perdagangan konvensional.

Global Head of Trade HSBC, Vivek Ramachandran, mengatakan, layanan tersebut dirancang untuk membantu perusahaan memperoleh pendanaan lebih cepat sekaligus mengurangi beban administrasi.

“Dengan menghadirkan akses pendanaan yang cepat, kami membantu bisnis mengalihkan fokus dari pengelolaan dokumen ke pemenuhan pesanan, investasi, dan ekspansi,” ujar Vivek.

HSBC menilai ketidakpastian geopolitik dan perang tarif telah mendorong kenaikan harga barang serta mengganggu rantai pasok global. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha membutuhkan akses pembiayaan yang lebih cepat agar arus kas tetap terjaga dan kegiatan usaha dapat terus berjalan.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |