Bongkar Taktik Intelijen Israel di Gaza, NAZA Sabet Penghargaan di Festival Film Venesia

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film dokumenter NAZA yang mengungkap taktik militer Israel dalam melakukan pembunuhan massal terhadap warga sipil di Gaza, meraih penghargaan Special Jury Prize di Festival Film Internasional Venesia 2026. Film ini disutradarai oleh peraih Oscar asal Israel, Yuval Abraham, dan Rachel Szor.

NAZA sebelumnya dijagokan bakal meraih penghargaan tertinggi festival, Golden Lion, setelah mendapat standing ovation selama 25 menit saat pemutaran perdananya. Namun, Golden Lion akhirnya dianugerahkan kepada sutradara Denmark May el Toukhy untuk film drama pascaperang Woman Unknown.

Saat menerima penghargaan untuk NAZA, Abraham mengatakan selama 10 hari sejak festival dimulai, Israel telah membunuh enam anak Palestina di Gaza. "Para perwira intelijen Israel yang kami ajak bicara mengatakan kepada kami bahwa pembunuhan massal ini bersifat sistematis: bukan karena kecelakaan, melainkan berdasarkan rancangan, tindakan pembunuhan dan kebijakan yang didasarkan pada dehumanisasi total terhadap warga Palestina," kata Abraham kepada penonton dilansir laman Dawn, Senin (14/9/2026).

Abraham menegaskan film ini sangat penting ditonton oleh masyarakat Israel. "Ini sangat, sangat penting bagi kami agar warga Israel menonton film ini. Negara kami yang melakukan kejahatan-kejahatan ini," kata dia.

Yuval Abraham dan Rachel Szor sebelumnya memenangkan Oscar pada 2025 untuk No Other Land, film dokumenter tentang serangan kekerasan oleh pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki, yang digarap bersama sutradara asal Palestina Basel Adra dan Hamdan Ballal. Sementara itu, Kepala bagian dokumenter The Guardian sekaligus salah satu produser NAZA, Lindsay Poulton, menyambut penghargaan tersebut. la mengatakan pengakuan dari dewan juri Festival Film Venesia menjadi bukti kekuatan film yang menggabungkan penceritaan sinematik dengan jurnalisme independen dan berani.

"Kami bangga bekerja sama dengan para sutradara yang berani dan berbakat ini, dan seperti mereka kami berharap film ini akan kembali menarik perhatian terhadap apa yang sedang terjadi di Gaza," kata dia.

Penghargaan Juri Khusus diberikan setiap tahun oleh dewan juri untuk mengakui sebuah karya yang dinilai luar biasa. Penghargaan tersebut berada di bawah Golden Lion dan Silver Lion dalam urutan penghargaan utama festival.

Film berdurasi 80 menit ini menyoroti penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Al) oleh militer Israel untuk menargetkan warga Palestina di Gaza. NAZA merupakan hasil investigasi yang berlangsung selama hampir tiga tahun.

Film ini dibangun berdasarkan kesaksian sejumlah sumber militer dan intelijen Israel yang berbicara dengan syarat identitas mereka dirahasiakan. Pengambilan gambar dilakukan pada malam hari di atap gedung di Tel Aviv.

Abraham menjelaskan, ia ingin menghadirkan kesaksian langsung dari para tentara dan perwira mengenai tindakan yang mereka lakukan di Gaza. "Tujuannya sangat sederhana. Kami ingin mendengar, sedetail mungkin, seperti apa sistem pembunuhan di Gaza dan bagaimana sistem tersebut beroperasi," kata Abraham dilansir laman Al Jazeera, Jumat (11/9/2026).

Judul film ini diambil dari istilah eufemisme intelijen berbahasa Ibrani yang digunakan untuk menunjukkan perkiraan jumlah warga sipil Gaza yang akan meninggal dalam suatu serangan udara. Menurut narasumber, sistem berbasis Al yang dikenal sebagai "Lavender" memanfaatkan jaringan telekomunikasi Gaza termasuk panggilan telepon, pergerakan, dan berbagai interaksi, untuk mengidentifikasi target pembunuhan.

Salah satu narasumber menggambarkan proses tersebut dilakukan dalam skala massal seperti sebuah pabrik. Narasumber lain yang terlibat dalam identifikasi target mengatakan proses itu seperti video game.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |