REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Harga emas dunia dan logam mulia diprediksi akan bergerak turun terbatas pada perdagangan sepekan ke depan, yakni di kisaran Rp 2,45 juta—Rp 2,75 juta per gram. Proyeksi tersebut terjadi di antaranya karena prediksi suku bunga Bank Sentral AS yang diperkirakan akan naik pada September 2026.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pada akhir pekan lalu, harga emas dunia ditutup pada level 4.348 dolar AS per troy ons. Diprediksi pada sepekan ke depan, jika bergerak terkoreksi, level support pertama harga emas dunia yakni di posisi 4.245 dolar AS per troy ons, lalu level support keduanya yakni 4.102 dolar AS per troy ons. Sementara, jika bergerak naik, level resisten harga emas dunia yakni diperkirakan di level 4.479 dolar AS per troy ons, dan level resisten kedua yaitu 4.650 dolar AS per troy ons.
“Jadi, dalam sepekan ke depan, harga emas dunia kemungkinan ditransaksikan di 4.102—4.650 dolar AS per troy ons. Selisihnya cukup tinggi,” kata Ibrahim dalam keterangan suara kepada wartawan, Ahad (13/9/2026) petang.
Sejalan dengan itu, harga logam mulia pada akhir pekan ini tercatat ditutup di level Rp 2,61 juta per gram. Ibrahim memprediksi, jika terjadi koreksi, level support pertama harga logam mulia yakni di posisi Rp 2,59 juta per gram, dan level support kedua yakni sebesar Rp 2,45 juta per gram. Sedangkan, jika mengalami kenaikan, level resisten pertama yakni sebesar Rp 2,63 juta per gram, dan level resisten kedua adalah Rp 2,75 juta per gram.
“Jadi, logam mulia dalam pekan depan kemungkinan akan ditransaksikan di Rp 2,45—Rp 2,75 juta per gram,” ungkapnya.
Di samping itu, indeks dolar AS pada sepekan ke depan diprediksi akan diperdagangkan di kisaran 90,30—100,20 dan rupiah kemungkinan besar mengalami pelemahan mencapai Rp 17.850-an per dolar AS. Adapun, harga minyak WTI crude oil kemungkinan ditransaksikan di level 91,60—103,50.
Ibrahim menjelaskan ada beberapa faktor yang memengaruhi harga emas dunia dan logam mulia cenderung mengalami penurunan di pekan depan. Mulai dari faktor geopolitik, dinamika perpolitikan di AS, hingga faktor supply dan demand.
Dari segi geopolitik, Ibrahim menerangkan, konflik geopolitik tidak hanya memanas di Timur Tengah, tetapi juga di Eropa Timur dan Afrika. Di Timur Tengah, AS dan Iran terus melakukan aksi saling serang, membuat ketegangan tersendiri di wilayah tersebut. Bahkan, ia menilai, kondisi peningkatan ketegangan merupakan yang tertinggi, sehingga mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang hanya ada tujuh hingga 10 kapal yang bisa berlayar.
Presiden AS Donald Trump diketahui sempat mengatakan bahwa perang akan berakhir setelah Pemilu Sela, atau kemungkinan terjadi pada Desember 2026. Pernyataan tersebut menunjukkan, perang antara AS dan Iran masih akan terus panjang, sehingga membuat harga minyak terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Kemudian, di Eropa Timur, perang secara sporadis terus bergulir antara Rusia dan Ukraina. Ibrahim mengatakan, perang antara kedua negara tersebut bisa saja terjadi cukup lama, yakni sekitar 3—4 tahun ke depan, sebab ada permasalahan wilayah Ukraina yang dikuasai oleh Rusia. Ukraina kemungkinan akan melanjutkan penyerangan terhadap wilayah-wilayah Rusia yang merupakan penghasil minyak dan gas alam, sedangkan Rusia terus melakukan serangan secara sporadis terhadap kota-kota besar di Ukraina, seperti Kyiv.
Di Afrika, tepatnya di Selat Bab el-Mandeb masih mengalami konflik. Konflik di Selat Bab el-Mandeb melibatkan kelompok Houthi Yaman yang berhadapan langsung dengan Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional beserta koalisi pendukungnya, terutama Arab Saudi. Houthi Yaman terus menguasai wilayah-wilayah yang dikuasai Yaman, dan terus merangsek ke pesisir Laut Merah, menandakan bahwa pasukan Houthi Yaman begitu digdaya dan memiliki pengaruh besar atas Selat Bab el-Mandeb di jalur pelayaran vital di Laut Merah. Kondisi itu berpotensi akan membuat harga minyak mentah terus mengalami kenaikan.
Dari segi faktor dinamika perpolitikan di AS, Ibrahim menerangkan, September 2026 merupakan bulan yang didominasi oleh persiapan sengit menjelang Pemilu Sela atau Pemilu Paruh Waktu, yakni terutama antara Partai Republik—partainya Donald Trump—dan Partai Demokrat.
“Pemilu Paruh Waktu dijadwalkan pada November 2026, di mana kendali atas Kongres AS menjadi taruhannya. Trump sendiri mengatakan dalam pidato kontroversialnya bahwa siapapun yang akan memilih Partai Republik dan bisa memenangkan Partai Republik akan mendapatkan cek sebesar 5.000 dolar AS bagi setiap warga dewasa AS yang melakukan pencoblosan. Ini dianggap bagi Partai Demokrat sebagai upaya penyuapan terselubung yang tidak realistis di tengah utang nasional AS yang melampaui 40 triliun dolar AS,” jelasnya.

2 hours ago
2















































