HALO pembaca nawala Cek Fakta Tempo!
Survei International Fact-checking Network (IFCN) terhadap 171 organisasi cek fakta di 71 negara menunjukkan 62 persen responden mencatat kenaikan audiens sepanjang 2025. Pertumbuhan ini dipicu oleh ekspansi organisasi ke format video dan visual.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Lebih dari separuh responden kini berfokus mengemas periksa fakta ke dalam video pendek. Sekitar 44,5 persen organisasi menambah materi visual seperti infografis. Sebaliknya, minat audiens terhadap artikel pendek maupun panjang justru menurun.
Kenaikan jumlah pemirsa juga didorong oleh penerbitan konten dalam beragam bahasa. Angkanya naik menjadi 60,6 persen organisasi pada 2025 dibanding 52,5 persen pada tahun sebelumnya.
Kondisi ini menjadi sinyal positif bahwa organisasi cek fakta cepat beradaptasi dengan perubahan karakter audiens digital. Hal tersebut menandakan makin banyak orang terpapar hasil pemeriksaan fakta.
Namun pertumbuhan audiens tidak sejalan dengan kondisi finansial. Sebanyak 76 persen organisasi cek fakta berada dalam kondisi krisis dan hanya 22,6 persen yang bisnisnya berkelanjutan. Krisis ini memaksa organisasi memangkas jumlah pemeriksa fakta secara besar-besaran.
Kelesuan ini terjadi setelah 45,3 persen organisasi melaporkan penurunan pendapatan. Salah satu pemicunya adalah langkah Meta menghentikan kerja sama dengan organisasi pemeriksa fakta setelah Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.
Tantangan lain muncul dari meluasnya represi hukum. Gugatan hukum membayangi 20,4 persen organisasi pada 2025 atau naik dari 16,4 persen pada tahun sebelumnya. Tekanan serta campur tangan otoritas pemerintah juga meningkat.
Perkembangan teknologi akal imitasi memberi pengaruh signifikan bagi kerja cek fakta. Selain menjadi alat bantu, sebanyak 49,6 persen organisasi harus menghadapi gempuran deepfake serta media sintetis yang persebarannya melampaui kecepatan verifikasi.
Padahal peran jurnalisme cek fakta makin krusial di era AI slop. “Seiring dengan meluasnya penggunaan AI di seluruh dunia, akan ada peningkatan permintaan akan jurnalisme berkualitas tinggi yang diperiksa oleh manusia,” kata Edward Roussel, Kepala Bagian Digital di The Times dan Sunday Times dalam riset Reuters Institute 2026.
Laporan International Fact-checking Network menunjukkan 94,9 persen organisasi memperkuat kolaborasi di tengah tantangan yang meningkat. Kerja sama ini melibatkan LSM, lembaga akademik, media, hingga perusahaan teknologi.
Salah satu bentuk kolaborasi menyasar peningkatan literasi digital. Dari 137 organisasi, sebanyak 67,2 persen menyatakan telah menyelenggarakan program literasi media.
Pembaca dapat mendukung keberlanjutan organisasi cek fakta seperti Tempo. Dukungan tersebut dapat berupa menyebarkan hasil verifikasi, mempromosikan Tempo kepada kolega, berdonasi, hingga berlangganan secara reguler.
Bagaimana Anda akan memulai untuk mendukung organisasi cek fakta?
Ada Apa Pekan Ini?
Dalam sepekan terakhir, klaim yang beredar di media sosial neniliki beragam isu, mulai dari isu internasional, politik,hukum, hingga kesehatan. Buka tautannya ke kanal Cek Fakta Tempo untuk membaca hasil periksa fakta berikut:
- Benarkah PM Israel Benjamin Netanyahu Diserang oleh Anggota Parlemen?
- Benarkah Donald Trump Singgung Sunni dan Syiah di Indonesia terkait Dukungan ke Iran?
- Benarkah Pengusaha Indonesia Berdonasi Ratusan Triliun Rupiah untuk Iran?
- Benarkah Trump Minta Damai Setelah Iran Hancurkan Haifa dan Tel Aviv?
Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini. Ingin mengecek fakta dari informasi atau klaim yang anda terima? Hubungi Tipline kami.
Ikuti kami di media sosial:















































