REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Final Piala Dunia 2026 menjadi momen yang ditunggu jutaan penggemar sepak bola termasuk di Indonesia. Namun di balik euforia tersebut, dokter mengingatkan bahwa ketegangan selama pertandingan bisa berdampak pada kesehatan, terutama bagi orang yang memiliki riwayat jantung.
Sejumlah studi menunjukkan pertandingan olahraga dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan risiko serangan jantung, gangguan irama jantung (aritmia), serta kejadian kardiovaskular lainnya pada kelompok rentan. Salah satu penelitian yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine setelah Piala Dunia 2006 di Jerman menemukan bahwa kejadian darurat kardiovaskular meningkat 2,7 kali lipat selama pertandingan yang melibatkan tim nasional Jerman.
Dokter spesialis jantung asal Spanyol, Jose Abellan, mengatakan tubuh manusia dapat merespons pertandingan final dengan cara yang hampir sama seperti menghadapi situasi penuh ancaman. Menurut dia, pertandingan besar memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan katekolamin.
"Ini adalah situasi yang mendebarkan dan menegangkan. Ada pelepasan hormon stres yang membuat tubuh aktif. Lonjakan kortisol dan katekolamin dilepaskan, membuat kita berada dalam keadaan stres," kata Abellan seperti dilansir laman Euronews, Sabtu (18/7/2026).
Lonjakan hormon stres tersebut dapat meningkatkan tekanan darah, mempercepat detak jantung, serta mendorong proses pembentukan gumpalan darah. Pada orang dengan kondisi jantung sehat, reaksi ini umumnya tidak menimbulkan masalah.
Namun, bagi individu yang memiliki gangguan kesehatan jantung, tekanan emosional tinggi dapat menjadi pemicu munculnya masalah serius. "Jika kesehatan kardiovaskular saya optimal atau baik, tidak akan terjadi apa-apa pada saya. Tetapi tidak diragukan lagi bahwa sebuah peristiwa penuh tekanan, bagi seseorang yang kesehatan kardiovaskularnya terganggu, dapat menjadi pemicu," kata dia.
Abellan mengungkap sejumlah kelompok yang perlu lebih berhati-hati saat menyaksikan pertandingan final Piala Dunia nanti. Mereka adalah orang yang pernah mengalami serangan jantung, memiliki pemasangan stent, menderita hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau memiliki riwayat gangguan irama jantung.
Meski demikian, menurutnya risiko bukan hanya berasal dari pertandingan. Faktor pendukung di sekitar acara olahraga juga dapat memperburuk kondisi.
"Yang perlu dijaga adalah segala sesuatu di sekitar pertandingan. Ini bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga menontonnya setelah pesta besar, dengan makanan tidak sehat, alkohol, dan lainnya," kata dia.

9 hours ago
4














































