REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Juru Bicara Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Pat Griffiths, mengatakan, meski intensitas konflik telah menurun sejak gencatan senjata tahun lalu, kematian dan kehancuran masih dihadapi warga Palestina di Jalur Gaza setiap harinya. Dia mengingatkan bahwa krisis di sana tetap berlangsung walaupun isu Gaza tak menjadi berita utama.
“Mari kita perjelas: kematian dan kehancuran bagi warga Palestina di Gaza berlanjut setiap hari. Penderitaan itu nyata, hadir dan di sini setiap hari - bahkan ketika Gaza tidak menjadi berita utama,” kata Griffiths yang sedang berkunjung ke Gaza, Jumat (18/9/2026), dilaporkan Anadolu Agency.
Dia menekankan bahwa saat ini warga Gaza masih kehilangan akses kesehatan, pangan, pendidikan, dan layanan atau kebutuhan dasar lainnya. “Banyak yang masih kehilangan orang yang dicintai, tidak tahu apakah mereka ditahan atau meninggal," ujarnya.
Griffiths mengatakan, selain pelayanan media, bantuan kritis yang saat ini sangat dibutuhkan warga Gaza adalah makanan, air bersih, dan tempat tinggal.
Menurut Griffiths, akses kemanusiaan tetap menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi tim ICRC yang bekerja di Gaza. “Untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, kami harus dapat menjangkau mereka – di mana pun mereka berada, termasuk di tempat-tempat penahanan. Itu tidak selalu mungkin,” katanya.
Dia mengungkapkan, akses dapat dibatasi karena masalah keamanan atau karena mereka yang memiliki wewenang untuk memberikan akses tidak melakukannya. Dalam konteks ini, Israel sebagai kekuatan pendudukan seharusnya membuka akses penyaluran bantuan kemanusiaan.
“Memberikan akses kemanusiaan adalah sesuatu yang merupakan kewajiban bagi pihak-pihak yang terlibat konflik bersenjata dan kekuatan pendudukan. Ini juga sesuatu yang berada di luar kendali kami sebagai pekerja kemanusiaan,” ucap Griffiths.
Namun dia menyebut ICRC tetap berusaha membangun dialog dengan pihak-pihak berwenang agar akses kemanusiaan di Gaza dapat ditingkatkan. “Orang-orang masih sangat membutuhkan akses yang lebih baik ke makanan yang berkualitas dan bergizi. Rumah sakit dan pusat perawatan kesehatan primer masih menghadapi kekurangan obat-obatan dan barang-barang medis,” ujarnya.
“Mesin dan material berat yang dapat digunakan untuk membersihkan puing-puing dengan aman, mencari sisa-sisa manusia atau memperbaiki sistem air dan air limbah yang rusak menghadapi pembatasan masuk,” tambah Griffiths.
Dia pun mengingatkan bahwa saat ini sebagian besar warga Gaza telah kehilangan mata pencahariannya. Hal itu karena agresi Israel selama lebih dari dua tahun telah menghancurkan berbagai infrastruktur di wilayah tersebut.
Efek dari hilangnya mata pencaharian warga adalah peredaran uang menjadi semakin langka. Hal itu mengakibatkan warga tak mampu membeli kebutuhan mereka ketika apa yang dibutuhkan tersedia di pasar.
“Semua hal ini membuat hidup lebih sulit bagi warga Palestina di Gaza saat ini. Itulah mengapa kami terus menyerukan masuk dan akses yang tidak terbatas kepada mereka yang membutuhkannya dari makanan penting, barang, obat-obatan, dan barang-barang lainnya,” kata Griffiths.
Dia menungkapkan, dalam dialog dengan otoritas Israel, ICRC terus menyerukan agar hukum kemanusiaan internasional dapat ditegakkan di Gaza. “Itulah sebabnya, dalam dialog kami dengan otoritas Israel, kami terus menyerukan hukum kemanusiaan internasional, yang berusaha mengurangi penderitaan warga sipil pada saat konflik bersenjata, untuk ditegakkan,” ucapnya.
“Itulah mengapa kami terus menyerukan kemauan politik yang diperlukan untuk mencari dialog dan solusi berkelanjutan untuk meningkatkan kehidupan warga Palestina di Gaza. Terlalu banyak nyawa yang dipertaruhkan untuk sesuatu yang kurang,” tambah Griffiths.

8 hours ago
5















































