Oleh: Mastur, Dosen Universitas Darunnajah, ([email protected])
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wisuda selalu menghadirkan kebahagiaan. Toga dikenakan, nama dipanggil, ijazah diserahkan, kamera mengabadikan senyum. Namun, ketika tepuk tangan berhenti dan toga disimpan, pertanyaan sesungguhnya baru dimulai: siapkah mereka menghadapi kehidupan setelah kampus?
September 2026, sejumlah perguruan tinggi kembali menggelar wisuda. Ribuan mahasiswa akan meninggalkan kampus dengan gelar akademik yang membanggakan. Tetapi wisuda semestinya bukan sekadar seremoni pelepasan, melainkan momentum untuk menguji hasil pendidikan: manusia seperti apa yang sesungguhnya telah dibentuk?
Ijazah tentu penting. Ia menjadi bukti seseorang telah menyelesaikan pendidikan akademik. Namun, dunia kerja tidak hanya bertanya seseorang lulusan dari mana. Dunia bertanya lebih jauh: apa yang mampu dikerjakan, bagaimana menyelesaikan masalah, bekerja bersama orang lain, mengambil keputusan, dan menghadapi perubahan.
Di sinilah perguruan tinggi perlu memperluas ukuran keberhasilannya. Kampus tidak cukup hanya menghitung jumlah lulusan, indeks prestasi, atau ketepatan waktu kelulusan. Yang lebih penting adalah melihat bagaimana pengetahuan dan pengalaman selama kuliah berubah menjadi kemampuan nyata setelah mahasiswa meninggalkan kampus.
Dalam perspektif human capital, pendidikan bukan sekadar proses memperoleh ijazah, melainkan investasi untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kapasitas, dan produktivitas manusia. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya dibekali pengetahuan akademik, tetapi juga perlu memiliki modal untuk beradaptasi, bekerja, berkarya, dan menciptakan nilai bagi masyarakat.
Konsep employability memperkuat pandangan tersebut. Lulusan yang memiliki employability bukan sekadar mereka yang mampu mendapatkan pekerjaan, tetapi mereka yang memiliki pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan atribut personal untuk bekerja secara efektif, menghadapi perubahan, serta terus berkembang dalam perjalanan kariernya.
Karena itu, kampus tidak cukup menghasilkan lulusan yang “tahu”. Kampus harus menghasilkan lulusan yang mampu melakukan. Pembelajaran perlu memberi ruang lebih luas bagi proyek nyata, magang, organisasi, penelitian, kewirausahaan, pemecahan masalah, komunikasi, kolaborasi, dan pengalaman menghadapi persoalan kehidupan.
Tantangannya semakin besar karena dunia kerja berubah dengan sangat cepat. Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum memperkirakan 39 persen keterampilan inti yang dibutuhkan pekerja akan berubah hingga 2030. Kemampuan berpikir analitis, kreativitas, resiliensi, fleksibilitas, kepemimpinan, literasi teknologi, serta kemauan untuk terus belajar semakin penting di tengah perubahan tersebut.
Artinya, perguruan tinggi tidak boleh hanya mempersiapkan mahasiswa untuk pekerjaan hari ini. Mereka harus dipersiapkan menghadapi pekerjaan yang mungkin berubah, hilang, atau bahkan belum ada ketika mereka lulus. Kampus harus menanamkan kemampuan belajar kembali ketika pengetahuan lama tidak lagi mencukupi.
Di sinilah gagasan career adaptability dari Savickas menjadi relevan. Karier bukan jalan lurus yang selalu dapat diprediksi. Ia merupakan perjalanan yang menuntut kesiapan menghadapi transisi, perubahan kondisi kerja, ketidakpastian, dan peluang baru. Karena itu, lulusan tidak cukup hanya dibekali kompetensi untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga kemampuan untuk terus beradaptasi ketika dunia kerja berubah.
Namun, kompetensi dan kemampuan beradaptasi saja belum cukup. Perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter. Sebab, manusia yang cerdas tetapi tidak jujur, terampil tetapi tidak bertanggung jawab, atau berprestasi tetapi kehilangan integritas, bukanlah gambaran keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
2















































