Kemitraan Strategis Saudi-Indonesia dalam Bingkai Visi 2030 dan 2045

2 hours ago 1

Oleh: Dr. CA. Jamalauddin, LC, Ms.J, Pemerhati Hubungan Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, Hubungan luar negeri Kerajaan Arab Saudi dengan komunitas internasional didasarkan pada prinsip, konstanta, dan realitas geografis, historis, religius, ekonomi, keamanan, politik, hubungan bertetangga baik, tidak melakukan campur tangan dalam urusan internal negara lain, memperkuat hubungan dengan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), mendukung hubungan dengan negara-negara Arab dan Islam dengan cara mengedepankan kepentingan bersama, membangun hubungan kerja sama dengan negara-negara sahabat, dan memainkan peran aktif dalam organisasi regional dan internasional. Kebijakan ini dijalankan melalui beberapa lingkup cakupan (Teluk, Arab, Islam, dan Internasional).

Sementara hubungan Saudi-Indonesia, menurut klasifikasi yang disebutkan di atas, termasuk dalam lingkup Islam. Lantas bagaimana hubungan kedua negara bersahabat di tengah dinamika regional dan global yang terjadi saat ini? Apa tantangan kedua negara dalam upayanya untuk meningkatkan hubungan ke level yang lebih strategis?

Hubungan Kerajaan Arab Saudi–Republik Indonesia adalah hubungan historis yang telah berlangsung lama, hubungan keduanya dibangun atas dasar persahabatan dan persaudaraan Islam. Hubungan diplomatik antara kedua negara dimulai pada 1948 dengan pembukaan Kedutaan Besar Indonesia di Jeddah. Kemudian pada 1950, Kerajaan Arab Saudi membuka Kedutaan Besarnya di Indonesia.

Di bidang politik, Arab Saudi dan Indonesia memiliki hubungan yang luar biasa (very excellent), dan terdapat kepentingan bersama antara kedua negara di berbagai level dan tingkatan, bilateral, multilateral, regional, dan internasional. Kedua negara merupakan anggota aktif Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan badan-badan yang berafiliasi kepadanya, serta memainkan peran utama dan significant dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Gerakan Non-Blok (GNB), dan G-20.Selain itu, kedua negara terus saling memberikan dukungan dan pengakuan di forum-forum regional dan internasional.

Beberapa faktor penting yang telah berkontribusi pada hubungan yang istimewa antara kedua negara, a.l. pertukaran kunjungan antar pejabat, yang diawali dengan kunjungan resmi Presiden RI, Ir. Soekarno ke Kerajaan Arab Saudi, pada tahun 1955, kunjungan resmi Raja Faisal ke Indonesia, pada 10-13 Juni 1970, kunjungan resmi Presiden RI, Joko Widodo, pada 12 September 2015 dan April 2019, kunjungan resmi Raja Salman ke Indonesia 1-3 Maret 2017 dan terkahir kunjungan resmi Presiden RI, Prabowo Subianto, pada 1 Juli 2025.

Selain itu, keberadaan situs-situs suci Islam Al-Haramainn Al-Syarifain (Makkah dan Madina) di Kerajaan Arab Saudi, dan masuknya ribuan jamaah Indonesia ke Mekah dan Madinah selama berabad-abad, juga mempengaruhi secara significant hubungan kedua negara. Menukil  apa yang pernah disampaikan Taufik Kiemas, Ketua MPR periode (2009-2013) dan suami Presiden Ke-5, Megawati Soekarnoputri, dalam suatu kesempatan mengatakan: “hubungan Saudi – Indonesia tidak akan pernah terganggu oleh apappun, sepanjang ada Makkah (Ka’bah) dan Madinah (Raudhoh).

Saat ini sebanyak 1.3 juta warga Indonesia berkunjung ke Saudi setiap tahunnya, baik untuk keperluan umrah, kunjungan biasa, haji maupun bisnis atau wisata juga telah mempengaruhi hubungan luar biasa tersebut. Lebih lanjut, hubungan di berbagai bidang lainnya telah membuka jalan bagi peningkatan perdagangan dan pertukaran ekonomi antara kedua negara, yang memungkinkan investor dan pengusaha untuk membangun proyek-proyek yang memberikan manfaat besar bagi kedua bangsa dan negara.

Di bidang investasi, perusahaan  ACWA Power asal Arab Saudi telah berinvestasi besar di Indonesia, senilai USD 10 miliar bersama Danantara dan Pertamina untuk transisi energi hijau, tenaga surya, dan hydrogen. Dalam waktu dekat ACWA Power juga akan melakukan investasi dengan menggandeng PT Garam Jawa Timur, PLN, ESDM, dan desalinasi air untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Jabodetabek dengan Kemenko Infrastruktur, yang nilainya ditaksir mencapai 19 miliar dolar AS, yang dibagi menjadi beberapa tahapan. 

Tentu tak kalah penting, sebanyak 2923 mahasiswa Indonesia berbeasiswa penuh dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sedang menimba ilmu di negeri Dua Tanah Suci tersebut. Selain itu, LIPIA (cabang Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud) di Jakarta juga telah menghasilkan ribuan alumninya di bidang Bahasa Arab dan Ilmu Keislaman, yang telah memberikan kontribusi penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia, dimana para alumninya tersebar dan mengabdi di berbagai lembaga, pendidikan, dakwah dan politik, seperti Wakil Menteri Luar Negeri RI saat ini, Anis Matta yang merupakan alumni LIPIA.

Di bidang Kesehatan, Kerajaan Arab Saudi melalui Pusat Bantuan Kemanusiaan Raja Salman (KSRelief) dalam empat tahun terakhir secara berturut-turut terus memberikan bantuan dengan melakukan operasi jantung khusus anak di berbagai RS di Indonesia (Jakarta, Medan, Makasar dan Padang). Ttidak hanya terbatas pada operasi jantung, para dokter ahli Saudi juga memberikan alih ilmu kodekteran ke sejumlah dokter bedah Indonesia dan juga menghibahkan peralatannya kepada RS Dimana dilakukan operasi jantung tersebut.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |