Warga Palestina menyaksikan serangan udara Israel di Jalur Gaza, 28 Juli 2026. Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan setidaknya empat orang syahid dalam serangan Israel di berbagai wilayah tersebut pada 28 Juli 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV — Sejumlah menteri di kabinet pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerukan dimulainya kembali serangan militer ke Jalur Gaza. Mereka menentang penerapan fase kedua rencana perdamaian Gaza yang disusun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Surat kabar Israel, Israel Hayom, dalam laporannya pada Jumat (7/8/2026), mengungkapkan, seruan serangan ke Gaza disampaikan para menteri saat mereka menghadiri pertemuan kabinet yang dipimpin Netanyahu pada Kamis (6/8/2026) malam. Setidaknya terdapat empat menteri yang menginginkan agresi ke Gaza dilanjutkan kembali.
Keempat menteri tersebut adalah Ze'ev Elkin, Bezalel Smotrich, Orit Strock dan Avi Dichter. “Jika Israel tidak meluncurkan operasi ofensif selama dua pekan, itu berarti bahwa mereka telah menerima rencana itu," kata Ze’ev Elkin menyinggung tentang rencana perdamaian Gaza, dikutip laman Anadolu Agency.
Sementara Smotrich, Strock dan Dichter menuntut agar Netanyahu mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan sikap oposisi Israel untuk menerapkan fase kedua rencana perdamaian Gaza.
“Anda pandai bermanuver, tetapi setelah penerbitan dokumen resmi, kami harus mendelegitimasinya. Kami tidak bisa melanjutkan manuver," kata Smotrich kepada Netanyahu.
“Hamas tidak boleh tinggal. Ia harus dihapus,” tambah Smotrich.
Pada Jumat (31/7/2026) lalu, Dewan Perdamaian bentukan Donald Trump telah merilis rancangan yang menguraikan prinsip-prinsip dan mekanisme implementasi untuk fase kedua rencana perdamaian Gaza. Dokumen tersebut mencakup pengaturan keamanan, administrasi, dan transisi untuk Gaza, serta jalur politik yang diusulkan.

2 hours ago
1














































