REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin resmi masuk dalam radar bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Para pejabat dan peneliti The Fed mulai menaruh perhatian khusus pada kemungkinan AI mempersempit pintu masuk pasar kerja bagi pekerja muda, meski belum menemukan bukti bahwa teknologi tersebut telah menyebabkan penghilangan pekerjaan secara luas di seluruh perekonomian AS.
Gubernur The Fed Michael S Barr mengatakan terdapat indikasi awal bahwa AI telah membuat sebagian pekerja muda semakin sulit memperoleh pekerjaan pertama. Pernyataan itu disampaikan Barr dalam konferensi inklusi keuangan yang diselenggarakan Federal Reserve Board pada Selasa, 14 Juli 2026.
“Saat ini hanya ada sedikit bukti mengenai hilangnya pekerjaan akibat AI di seluruh perekonomian,” kata Barr. Namun, ia menambahkan, terdapat bukti bahwa AI mungkin telah mempersulit pekerja muda memasuki sejumlah kategori pekerjaan.
Pernyataan Barr menjadi cantelan terbaru dalam perdebatan mengenai apakah lulusan perguruan tinggi akan menjadi kelompok pertama yang menanggung konsekuensi ekonomi dari perkembangan AI. Selama ini, pekerjaan tingkat pemula menjadi tempat lulusan baru mempelajari keterampilan, memperoleh pengalaman, dan membangun jenjang karier. Sebagian tugas yang biasanya diberikan kepada pekerja junior kini dapat dirangkum, dianalisis, ditulis, atau diprogram menggunakan AI.
Kekhawatiran tersebut kembali disinggung dalam catatan penelitian Federal Reserve yang diterbitkan pada Jumat, 17 Juli 2026. Peneliti The Fed memperingatkan bahwa apabila AI menggantikan tugas-tugas yang biasanya diberikan kepada pekerja tingkat pemula, dampaknya bukan hanya berupa berkurangnya pekerjaan junior.
Perusahaan juga berisiko menghilangkan proses pembelajaran di tempat kerja yang selama ini membantu pekerja muda mengembangkan kemampuan profesional. Dampaknya dapat berlangsung lebih panjang karena pekerja baru kehilangan kesempatan memperoleh pengalaman yang dibutuhkan untuk naik ke posisi yang lebih tinggi.
Perhatian The Fed terhadap AI sebenarnya telah terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Gubernur The Fed Lisa Cook pada 24 Februari 2026 mengatakan permintaan tenaga kerja telah menurun dalam sejumlah pekerjaan, terutama pemrogram komputer, bidang yang mengalami kemajuan AI paling pesat.
Cook juga mencatat tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi baru meningkat ketika sebagian perusahaan mulai menggunakan AI untuk mengerjakan tugas-tugas yang sebelumnya diberikan kepada pekerja pemula. Namun, ia menegaskan dampak AI terhadap pasar kerja secara keseluruhan belum dapat dipastikan.
Dalam pidato berikutnya di Stanford University pada 27 Mei 2026, Cook mengatakan dunia kemungkinan sedang mendekati reorganisasi pekerjaan terbesar dalam beberapa generasi. Menurut dia, pekerjaan yang hilang akibat AI dapat muncul lebih dahulu sebelum pekerjaan-pekerjaan baru tercipta.
Cook tetap mengingatkan bahwa belum ada bukti konklusif bahwa proses tersebut telah terjadi dalam skala besar. Sebagian besar perusahaan kecil yang disurvei Federal Reserve juga menyatakan biaya tenaga kerja mereka belum berubah akibat penggunaan AI.

18 hours ago
6















































