REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Daya kritis ulama terdahulu terhadap kezaliman penguasa sangatlah tajam, bahkan juga pembelaan mereka terhadap orang-orang yang lemah.
Salah satunya adalah Imam Tajuddin as-Subki. Dalam Mui'd al-Ni’am wa Mubid as-Saqam, tokoh yang hidup di abad ke-8 Hijriyah tersebut sangat kuat melakukan pembelaan terhadap orang-orang yang lemah.
Sosok bernama lengkap Tajuddin Abdul Wahhab bin Ali as-Subki itu tidak melupakan hak-hak para petani.
Ia juga menyerukan agar para mamluk dan tentara tidak berbuat zalim kepada mereka serta tidak memaksa mereka melakukan sesuatu tanpa alasan yang dibenarkan.
Dalam menjelaskan kewajiban para tentara, ia berkata;
فمن حق الله عليهم وشكر نعمته، اللطف بالفلاحين، فلو شاء الله لقلب الفلاح جنديا والجندي فلاحا، فإذا كان لا يشكر نعمة الله تعالى على أن رفعه على درجة الفلاح فلا أقل من أن يكفي الفلاح شره وظلمه
“Di antara hak Allah yang harus mereka tunaikan sebagai bentuk syukur atas nikmat-Nya adalah memperlakukan para petani dengan baik. Seandainya Allah menghendaki, Dia bisa saja menjadikan seorang petani sebagai tentara dan seorang tentara sebagai petani. Jika seseorang tidak mampu mensyukuri nikmat Allah karena Dia telah mengangkat kedudukannya di atas seorang petani, setidaknya ia harus mencegah dirinya menyakiti dan menzalimi petani tersebut.”
Secara tersirat, As-Subki sedang menyinggung kesewenang-wenangan para tentara Mamluk dalam memperlakukan petani. Karena itu, ia menasihati mereka agar bersikap lembut dan memperlakukan para petani dengan baik.

2 hours ago
1












































