REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Perkembangan Artificial Intelligence (AI), otomatisasi, dan transformasi digital mendorong perubahan besar di dunia kerja. Di tengah perubahan tersebut, memilih program studi berbasis teknologi dinilai menjadi langkah strategis bagi generasi muda untuk mempersiapkan karier di masa depan.
Kebutuhan industri terhadap talenta digital terus meningkat. Berbagai sektor seperti data dan AI, digital marketing, software dan IT, keamanan siber, hingga financial technology (fintech) membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan digital yang relevan dengan kebutuhan industri.
Kepala Kampus Cyber University, Ibnu Alfarobi mengatakan perubahan pola rekrutmen perusahaan saat ini menunjukkan pentingnya penguasaan keterampilan digital sejak masa kuliah.
“Perusahaan saat ini tidak hanya melihat ijazah atau nilai akademik, tetapi juga kemampuan praktis yang dimiliki calon karyawan. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri sejak dini,” kata Ibnu dalam keterangan rilis, yang diterima di Jakarta, Ahad (19/7/2026).
Ia menyebut, kuliah berbasis teknologi tidak lagi dapat dipandang sebagai pendidikan formal semata. Lebih dari itu, pendidikan menjadi investasi jangka panjang yang menentukan kesiapan seseorang menghadapi perubahan dunia kerja.
Menurutnya juga, program studi berbasis teknologi umumnya menawarkan kurikulum yang lebih dekat dengan kebutuhan industri. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga terlibat dalam berbagai proyek yang membantu mereka memahami penerapan teknologi dalam dunia nyata.
“Pembelajaran berbasis proyek membuat mahasiswa terbiasa menyelesaikan masalah yang nyata. Pengalaman ini menjadi bekal penting ketika mereka memasuki dunia kerja yang semakin dinamis dan kompetitif,” kata Ibnu.
Sejumlah bidang studi berbasis teknologi diperkirakan akan terus dibutuhkan dalam satu hingga dua dekade mendatang. Di antaranya Sistem Informasi, Data Science dan AI, Bisnis Digital, Financial Technology (Fintech), serta Sistem dan Teknologi Informasi yang berfokus pada perlindungan data dan sistem digital.
Namun, Ibnu menilai keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh pilihan jurusan. Kampus juga memiliki peran penting dalam menyediakan ekosistem pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan industri digital.
“Kampus perlu menghadirkan kurikulum berbasis industri, pembelajaran yang fleksibel, kesempatan magang, serta kolaborasi dengan dunia usaha agar mahasiswa memiliki pengalaman yang relevan sebelum lulus,” kata dia.
Sebagai Shaping Digital Future Leader, Cyber University (Universitas Siber Indonesia) mengembangkan model pendidikan yang terintegrasi dengan kebutuhan industri. Salah satu program unggulannya adalah Company Learning Program (CLP) 3+1, yang memungkinkan mahasiswa menempuh tiga tahun perkuliahan dan satu tahun magang di perusahaan.
Melalui program tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengasah keterampilan teknis sekaligus memahami budaya kerja profesional sejak masih berstatus mahasiswa. Pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat proses adaptasi lulusan ketika memasuki dunia kerja.
Ibnu menambahkan era AI seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang bagi mereka yang mampu beradaptasi dan terus mengembangkan kompetensi. “Teknologi akan terus berkembang. Karena itu, kemampuan belajar, beradaptasi, dan menguasai keterampilan baru menjadi kunci agar generasi muda tetap relevan dan mampu bersaing di masa depan,” tuturnya.

1 day ago
6















































