MOHAMMAD AULIA
Sinau | 2026-06-22 13:31:56
Yogyakarta, banyak wisatawan yang berkunjung ke Keraton Yogyakarta merasa kagum ketika melihat beberapa abdi dalem mampu berbicara menggunakan bahasa asing. Padahal, sebagian dari mereka tidak pernah menempuh pendidikan khusus di sekolah bahasa.
Kemampuan tersebut sering kali terlihat ketika mereka menyambut tamu, menjelaskan sejarah bangunan keraton, atau menjawab pertanyaan wisatawan mancanegara. Hal ini tentu menimbulkan rasa penasaran, terutama bagi pengunjung yang menganggap bahwa kemampuan berbahasa asing hanya dapat diperoleh melalui pendidikan formal. Lalu, bagaimana mereka bisa menguasai bahasa asing?
Kemampuan tersebut ternyata banyak diperoleh dari pengalaman sehari-hari. Sebagai bagian dari Keraton Yogyakarta, para abdi dalem sering berinteraksi dengan wisatawan mancanegara yang datang dari berbagai negara. Hampir setiap hari mereka bertemu dengan pengunjung yang menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Inggris.
Dari percakapan sederhana yang dilakukan secara berulang, mereka perlahan belajar memahami dan menggunakan bahasa asing dalam berbagai situasi. Awalnya mungkin hanya memahami beberapa kata atau kalimat sederhana, tetapi seiring waktu kemampuan mereka berkembang karena terus digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Proses belajar yang dilakukan para abdi dalem juga berlangsung secara alami. Mereka mendengarkan cara wisatawan berbicara, memperhatikan kosakata yang sering digunakan, lalu mencoba menggunakannya kembali ketika berkomunikasi. Jika terdapat kesalahan, mereka belajar memperbaikinya melalui pengalaman berikutnya. Cara belajar seperti ini membuat mereka terbiasa menggunakan bahasa asing tanpa merasa sedang mengikuti pelajaran bahasa secara formal. Kebiasaan berinteraksi secara langsung dengan penutur dari berbagai negara menjadi sarana belajar yang sangat efektif.
Selain belajar dari pengalaman, beberapa abdi dalem juga memiliki latar belakang pekerjaan yang beragam sebelum mengabdi di keraton. Ada yang pernah menjadi guru, pegawai negeri, dosen, karyawan perusahaan, maupun bekerja di bidang lain yang memungkinkan mereka mengenal bahasa asing. Pengalaman tersebut kemudian membantu mereka saat berkomunikasi dengan wisatawan. Pengetahuan yang pernah diperoleh sebelumnya menjadi modal yang terus diasah ketika mereka bertugas di lingkungan keraton.
Tidak sedikit pula abdi dalem yang memiliki minat pribadi untuk terus belajar. Mereka memanfaatkan buku, media massa, televisi, radio, hingga internet untuk menambah kosakata dan melatih kemampuan berbahasa asing. Meskipun prosesnya dilakukan secara mandiri, semangat untuk terus belajar membuat kemampuan mereka semakin baik dari waktu ke waktu. Beberapa di antaranya bahkan mampu memahami pertanyaan yang cukup kompleks dan memberikan penjelasan yang mudah dipahami oleh wisatawan asing.
Kemampuan berbahasa asing juga didorong oleh kebutuhan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pengunjung.
Sebagai salah satu destinasi budaya terkenal di Indonesia, Keraton Yogyakarta setiap tahun menerima banyak wisatawan internasional. Para wisatawan tersebut datang untuk melihat langsung kehidupan budaya Jawa, mempelajari sejarah Kesultanan Yogyakarta, serta mengenal berbagai tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini. Karena itu, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing menjadi nilai tambah yang sangat membantu dalam menjelaskan sejarah, tradisi, dan budaya keraton kepada para tamu.
Ketika wisatawan dapat memahami penjelasan yang diberikan, pengalaman berkunjung mereka menjadi lebih berkesan. Informasi mengenai sejarah keraton, makna simbol-simbol budaya, fungsi bangunan, hingga berbagai upacara adat dapat disampaikan dengan lebih jelas. Kemampuan berbahasa asing yang dimiliki para abdi dalem juga membantu menciptakan suasana yang ramah dan nyaman bagi wisatawan dari berbagai negara. Hal tersebut sekaligus memperkuat citra Keraton Yogyakarta sebagai destinasi budaya yang terbuka bagi masyarakat internasional.
Meski mampu berbicara dalam bahasa asing, para abdi dalem tetap menjaga identitas budaya Jawa yang menjadi bagian dari tugas mereka. Dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keraton, mereka tetap menggunakan tata krama dan bahasa Jawa sesuai tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Nilai-nilai kesopanan, penghormatan terhadap adat istiadat, serta etika berkomunikasi tetap menjadi pedoman utama dalam menjalankan tugas sebagai abdi dalem.
Kemampuan berbahasa asing yang mereka miliki tidak mengurangi kecintaan terhadap budaya lokal. Justru sebaliknya, kemampuan tersebut digunakan sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya Jawa kepada masyarakat dunia. Dengan menjelaskan berbagai tradisi dan sejarah keraton kepada wisatawan mancanegara, para abdi dalem turut berperan dalam menjaga dan mempromosikan warisan budaya Indonesia di tingkat internasional.
Fenomena ini menunjukkan bahwa belajar bahasa tidak selalu harus dilakukan melalui pendidikan formal. Pengalaman, kebiasaan berinteraksi dengan banyak orang, lingkungan yang mendukung, serta kemauan untuk terus belajar juga dapat membuat seseorang mampu menguasai bahasa asing.
Akhirnya, para abdi dalem Keraton Yogyakarta menjadi contoh bahwa kemampuan tersebut bisa berkembang dari kehidupan sehari-hari. Melalui dedikasi mereka dalam melayani pengunjung dan memperkenalkan budaya Jawa, para abdi dalem tidak hanya menjadi penjaga tradisi keraton, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan budaya Indonesia dengan masyarakat dunia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

4 hours ago
2












































