
Oleh: Achmad Tshofawie, Kordinator ECOFITRAH; keluarga ICMI dan FKPPI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Delapan tahun lalu, penulis menulis sebuah tajuk opini di salah satu mainstream media cetak di negeri ini, hadir dengan judul percaya diri: "Menjadi Hijau Itu Hebat". Tulisan itu tidak sekadar menuliskan retorika lingkungan yang klise, melainkan sebuah rebranding ideologis.
Saat itu, isu lingkungan sering kali dianggap sebagai beban, sebuah "biaya tambahan" dalam pembangunan, atau sekadar hobi para aktivis yang kusam. Artikel opini itu malah bertujuan membalikkan logika tersebut: menjadi hijau adalah sebuah kehebatan, sebuah prestise, dan standar baru bagi masyarakat modern yang cerdas.
Hari ini, di tengah kepungan banjir bandang yang kian rutin, erosi lahan, cuaca ekstrem yang tak menentu, polusi udara yang mencekik paru-paru kota,dan lain-lainnya ; tulisan itu tidak lagi terasa sebagai sekadar opini. Ia terasa seperti sebuah visi yang terlambat kita sadari kebenarannya .Kita kini menyadari bahwa kontribusi negatif manusia terhadap bencana alam bukanlah sekadar angka di atas kertas statistik, melainkan dosa ekologis yang sedang kita tuai hasilnya.
Dekonstruksi "Go Green": Antara Trend dan Esensi
Slogan "Go Green" telah mendunia. Namun, mari kita jujur: bagi sebagian besar orang, ini hanya sekadar gaya hidup permukaan. Membawa tumbler ke kantor atau menggunakan sedotan kertas sambil tetap membuang limbah kimia ke sungai adalah sebuah kemunafikan ekologis. Di sinilah relevansi tulisan tersebut kembali mengemuka. Kata "Hebat" yang disematkan harapannya mengandung makna kedalaman komitmen yang optimis.
Jika kita bedah lebih dalam, "Go Green" bukan sekadar kampanye menanam pohon. Ia adalah pergeseran paradigma dari ego-centric (manusia sebagai pusat segalanya yang bebas mengeksploitasi) menjadi eco-centric (manusia sebagai bagian integral dari alam). Di sinilah letak irisan menariknya: Jika "Go Green" dijalankan dengan ketulusan totalitas, ia bukan lagi sekadar urusan duniawi. Ia bertransformasi menjadi sebuah perjalanan spiritual. Secara ekstrem, kita bisa menyebutnya: Go Green is Go to Heaven.
Teologi Hijau: Rahasia di Balik "Mudhammatan"
Mengapa menjaga lingkungan dengan niat ikhlas karena Allah Ta'ala bisa menjadi semacam tiket menuju surga? Jawabannya tertanam kuat dalam nash Al-Qur’an, khususnya dalam surat yang paling puitis dan penuh pengingat nikmat: QS. Ar-Rahman.
Dalam ayat 64, Allah SWT berfirman dengan satu kata yang sangat kuat: Mudhammatan. Secara harfiah, kata ini mendeskripsikan dua surga yang warnanya hijau tua, hijau yang saking pekatnya. Dalam ilmu botani, warna hijau pekat adalah indikator kesehatan tumbuhan yang mencapai puncaknya—klorofil yang melimpah dan hidrasi yang sempurna.
Allah tidak memilih warna emas atau perak untuk mendeskripsikan puncak keindahan surga dalam ayat ini, melainkan warna "hijau tua". Ini adalah pesan simbolis yang sangat dalam: Warna hijau adalah warna peradaban yang diridhoi Tuhan Semesta Alam.
Jika surga yang kita dambakan adalah tempat yang Mudhammatan—hijau pekat dan rimbun—maka bagaimana mungkin manusia yang hobinya menghanguskan hutan, mencemari mata air, dan mengubah kawasan "hijau" asri menjadi "kawasan toksik" merasa layak memasukinya? Di sinilah argumen "Go Green = Go to Heaven" menemukan landasan teologisnya.
Menjaga bumi adalah latihan (gladi bersih) untuk menghuni surga. Menjadi hijau bukan tiket otomatis menuju surga, tetapi tanda bahwa kita sedang berjalan ke arahnya.
Al-Mizan: Keseimbangan yang Terkoyak
Ar-Rahman juga memperkenalkan konsep Al-Mizan (keseimbangan). Allah menegakkan langit dan menciptakan keseimbangan agar manusia tidak melampaui batas (tathawwu) dalam timbangan tersebut.
Setiap bencana alam yang terjadi saat ini—yang jelas-jelas ada kontribusi campur tangan manusia—adalah bukti nyata bahwa kita telah merusak Mizan. Kita menebang pohon di hulu, maka keseimbangan air di hilir pun hilang. Kita melepas emisi karbon tanpa batas, maka keseimbangan suhu global pun bisa runtuh.
Menjadi hijau itu hebat karena ia berarti menjadi manusia yang mampu menjaga keseimbangan Tuhan di bumi. Ia adalah bentuk syukur yang paling nyata. Bukankah Ar-Rahman terus-menerus bertanya, "Fabiayyi ala i rabbikuma tukazziban?" (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?). Merusak alam adalah bentuk nyata dari kekufuran terhadap nikmat tersebut.
Menjadi Hijau: Dari Opini Menuju Aksi
Visi dari tulisan "Menjadi Hijau itu Hebat" penekanannya menyentuh kesadaran kolektif. Namun, tulisan tetaplah menjadi "jasad" tanpa nyawa jika tidak dibarengi dengan gerakan.
Kita butuh "Kebanggaan Hijau" baru. Jika dulu orang bangga dengan kendaraan boros energi atau kepemilikan lahan yang luas namun gersang, kini "Kehebatan" harus diukur dari seberapa kecil jejak karbon yang kita tinggalkan dan seberapa besar kontribusi kita pada hijaunya bumi.
Warisan untuk Masa Depan
Menjadi hijau itu hebat bukan karena ia trend global, tapi karena ia adalah fitrah kemanusiaan. Menjadi hijau itu hebat karena ia adalah satu-satunya jalan agar anak cucu kita masih bisa melihat warna Mudhammatan di bumi, sebelum mereka melihatnya di surga kelak.
Gagasan yang tertuang dalam kolom opini tahun 2016 tersebut kini harus kita naikkan derajatnya. Bukan lagi sekadar bahan diskusi di meja kopi, melainkan menjadi panduan hidup. Sebab, pada akhirnya, setiap pohon yang kita tanam, setiap sampah yang kita kelola, dan setiap kebijakan hijau yang kita dukung adalah investasi dua alam: kenyamanan di dunia dan keselamatan di akhirat.
Mari kita buktikan bahwa "Menjadi Hijau Itu Hebat" bukan sekadar judul artikel, melainkan sebuah pilihan hidup yang membawa kita pulang menuju surga yang hijau tua warnanya.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

5 hours ago
6














































