Museum, Cita-Cita dan Bahasa Indonesia

19 hours ago 6

Image ivan adilla

Eduaksi | 2026-07-19 23:26:59

Ivan Adilla

Dosen di di Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Andalas, Padang

Bahasa Indonesia saat ini diajarkan di lebih lima puluh negara di dunia. Salah satunya adalah Korea Selatan. Dua kampus utama yang memiliki jurusan Indonesia dan Melayu adalah Hankuk University for Foreign Studies (HUFS) di Seoul dan Yongin, serta Busan University for Foreign Studies (BUFS) di Busan.

Kenapa orang asing belajar Bahasa Indonesia? Apa bidang pekerjaan yang bisa dimasuki dengan kemampuan berbahasa Indonesia? Jawabannya saya sampaikan dalam dalam catatan ringan di bawah ini, yang ditulis berdasarkan pengalaman tinggal dan mengajar Bahasa Indonesia selama tiga tahun, 2017-2020, di Hankuk University for Foreign Studies (HUFS) di Yongin.

***

Kampus Hankuk University for Foreign Studies (HUFS), Yongin, pada pagi hari awal musim gugur. Daun yang berwarna coklat akan segera gugur dihantam angin utara yang dingin dan meninggalkan ranting-ranting yang meranggas. (Foto: Ivan Adilla)

Suatu hari di National Museum of Korean Contemporary History, tak jauh dari Gwanghammun, Seoul. Lima orang siswa sekolah dasar sedang memperhatikan foto lama yang dipajang di dinding. Seorang guru, wanita setengah baya dengan gaun panjang bermotif bunga-bunga, memberikan penjelasan tentang Ban Kimun, Sekretaris Jenderal PBB asal Korea, yang dalam foto tersebut sedang memimpin sidang umum PBB. Kelima anak-anak itu menyimak, dan kadang mencatat beberapa keterangan penting.

Selain politisi seperti Ba Kimun, di museum itu juga dipajang foto tokoh dari bidang lain. Ada pengusaha Lee Byung Chull (pendiri Samsung), Chung Ju-yung (pendiri Hyundai), atlet senam Yuna Kim, pesepakbola Son Heung-min, musisi Psy pelantun Gangnam Style, serta grup musik Korea yang beberapa kali meraih Grammy Awards, BTS. Di dinding sebelahnya terpampang foto kelompok perawat dan pekerja tambang yang pernah bekerja di Eropa pada saat Korea dilanda kesulitan ekonomi tahun 1960-1970-an.

Selain foto dan animasi, di museum itu juga dipajang produk industri pertama bangsa Korea. Ada mobil, tape recorder, kipas angin, kulkas. Juga piringan hitam dan pita kaset yang pertama merekam lagu dan suara penyanyi Korea.

Setiap kali mengunjungi museum, saya selalu bertemu rombongan pelajar sekolah dasar atau sekolah menengah pertama. Baik di Museum Hangeoul, Museum Raja Sejong, Museum Lukisan Kontemporer, hingga Museum Perang Korea. Anak-anak sekolah itu selalu didampingi oleh guru mereka. Pengelola museum selalu memberikan potongan harga untuk pelajar dan orang asing.

Kenapa guru di Korea suka mengajak siswanya ke museum?

“Masa depan ditentukan dari museum”, kata Bernardo Nugroho Yahya, guru besar bidang komputer Hankuk University for Foreign Studies (HUFS) asal Surabaya. “Di museum, anak-anak menyaksikan apa yang telah dilakukan dan ditemukan orang pada masa lalu. Dari sana mereka jadi bisa memilih masa depan sendiri. Apakah akan meneruskan langkah yang dilakukan orang lain sebelumnya, ataukah menemukan hal baru yang belum pernah dilakukan orang lain”.

***

Pengunjung berjalan di dekat sebuah karya seni instalasi di halaman Museum of Modern and Contemporary Art (MMCA), Seoul, Korea Selatan (Foto: Ivan Adilla)

Menjelang tamat kuliah, setiap mahasiswa di Korea sudah harus mempunyai rencana hidup yang jelas. Agar tidak menjadi pengangguran yang kebingungan. Setiap orang akan merancang masa depan dan rencana yang realistis. Selain bekerja, atau melanjutkan studi, ada juga yang membuka usaha sendiri.

“Cita-cita saya menjadi pengusaha ekspedisi”, ujar Kim Won-jae ketika saya bertanya tentang rencana masa depannya. Kenapa cita-citamu begitu sederhana Won-jae?

“Orang Korea bermigrasi ke banyak negara. Mereka mungkin perlu barang-barang dari Korea. Atau mereka ingin mengirim oleh-oleh dari negara tempat mereka tinggal. Nah, saya membantu mereka dengan usaha ekspedisi”, jelasnya.

Saat liburan, Won Jae bekerja magang pada perusahaan ekspedisi yang beroperasi ke luar negeri. Menjelang tamat, ia telah diterima bekerja di sebuah perusahaan dagang Korea yang mengekspor hasil produksinya ke berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kemampuan Bahasa Indonesia yang diperolehnya saat kuliah tentu saja amat membantu bidang pekerjaan ini. Setelah beberapa tahun bekerja, ia membangun rencana untuk memiliki usaha ekspedisi sendiri.

Song Yu Jeong adalah mahasiswi yang tenang dan pendiam. Saat ke kampus, ia lebih sering memakai gaun dengan rok panjang yang lebar. Rambut panjangnya selalu terjalin rapi. Ketika teman-temannya menuju kafe untuk istirahat, Yu Jeong memilih tinggal dalam kelas. Gadis itu lebih suka duduk di meja untuk mengorat-oret kertas dengan pensil untuk membuat sketsa. Apa cita-citamu, Yu Jeong?

“Saya mau jadi disainer pakaian muslim”, jawabnya dengan suara lembut.

“Kenapa kamu tertarik dengan bidang itu?”

“Pertama, karena saya suka menggambar dan membuat disain. Alasan kedua saya temukan saat berkunjung ke Indonesia dan Malaysia. Saat melihat pakaian yang digunakan wanita muslim, saya membayangkan banyak peluang untuk memodifikasi pakaian muslim agar wanita bisa tampil lebih cantik”, jelasnya.

“Tapi Anda kan bukan seorang muslim?”, pancing saya dengan rasa penasaran.

“Tak masalah. Saya bisa belajar tentang aturan berpakaian wanita muslim. Justru itu akan menjadi tantangan menarik bagi orang muda seperti saya”.

***

“Saya ingin menjadi pramugari”, jawab Lee Kyung Seun. “Karena saya suka bepergian ke mana saja”.

“Kalau mau jadi pramugari, kenapa memilih jurusan Indonesia?”, tanya saya lagi.

“Tentu saja”, ujar Kyung Seun yakin. “Saya mau jadi pramugari untuk penerbangan di Asia Tenggara. Indonesia, Malaysia atau Vietnam. Jadi saya harus bisa berbahasa Indonesia dan Melayu”. Tiga bulan setelah perbincangan itu, Kyung Seun mengabarkan bahwa ia diterima bekerja di sebuah perusahaan penerbangan Vietnam yang membuka jalur penerbangan ke Korea.

“Kalau pandemi Covid 19 sudah reda, perusahaan tempat saya bekerja akan membuka line ke Indonesia juga. Jadi saya bisa menjalani hobi saya, berlibur sambil kerja ke negara-negara di Asia Tenggara”, tulis Kyung Seun melalui Kakao Talk, aplikasi komunikasi produk Korea.

***

Park Seung Chan adalah mahasiswa dengan banyak minat. Selain suka menyelam, dan memasak, pemuda berpostur tinggi tegap ini ia juga lihai menjadi broker. Ia membantu beberapa selebritis Indonesia yang melakukan operasi wajah di klinik kecantikan di Korea. “Ada saja orang kaya dari Indonesia yang tak ingin pipinya terlihat tembem. Yang lain, ingin hidungnya jadi lebih tinggi”, jelasnya dalam suatu kesempatan istirahat kuliah.

Dengan kemampuan Bahasa Indonesia yang baik, resmi maupun bahasa gaul, dan sikapnya yang supel, Chancan—begitu ia biasa disapa-- menjadi penerjemah bagi jasa kecantikan dan pelanggannya. Akan tetapi, pandemi Covid 19 membuat jasa operasi kecantikan harus tiarap. Maka Chancan mengembangkan kompetensinya yang lain.

“Suatu saat, saya mau buka restoran Korea, Pak” katanya

“Di mana?”

“Di Jakarta, mudah mudahan”.

Pada awal 2022, Chancan berhasil mewujudkan cita-citanya. “Saya bertugas sebagai koki di dapur, sementara bapak saya mengurus ruang tamu”, jelasnya ketika saya dan isteri berkunjung ke restoran yang terletak di lingkungan SCBD, Sudirman, Jakarta itu. Disain dan masakan restoran ini mengingatkan kami pada restoran di Korea di negeri asalnya. Restoran dengan ruangan lega yang asri, peralatan makan yang lengkap, tungku pemanas makanan, hingga serbet yang dilipat. Semuanya ditata rapi. Kami memesan kimchi jighae, ramyeon, toupokki dan odeng.

Menjelang berpisah, Chancan menghadiahi kami dua botol kimchi. “Sayangnya, kimchi ini kurang pedas, Pak. Sengaja, setelah saya meminta saran dari beberapa pelanggan”, katanya. Restoran itu menjadi pilihan beberapa selebritis tanah air yang ingin menikmati masakan Korea. Penyanyi Ayu Tingting dan Pasha Ungu adalah di antara pelanggan Chancan restoran.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |