Obrolan Rahasia Kartini dan Kiai Soleh Darat yang Mengubah Sejarah Indonesia

2 hours ago 3

Penumpang berjalan keluar usai menaiki MRT di Halte Bundaran HI, Jakarta dengan bernuansa Kartini.

Oleh: Fadhly Azhar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejarah cenderung berfokus pada peristiwa-peristiwa besar, namun biasanya mengabaikan obrolan-obrolan kecil yang benar-benar menggeser arah suatu hal.

Dalam konteks ini, pertemuan Raden Ajeng Kartini dan Kiai Soleh Darat dapat dibaca bukan sekadar hubungan santri-guru, melainkan sebagai dialog epistemik antara tradisi pesantren dan tumbuhnya kesadaran kebangsaan.

Ada pandangan tidak mainstream yang bisa dikemukakan bahwa Kartini tidak hanya “tercerahkan” oleh Barat, tetapi justru mengalami dekolonisasi batin melalui Islam yang dirintis oleh Kiai Soleh Darat.

Jika kolonialisme berhasil menjauhkan masyarakat pribumi dari bahasa dan makna, maka Kiai Soleh Darat melakukan hal sebaliknya, yakni mendekatkan wahyu pada realitas kehidupan.

Dalam sejarah lisan yang berkembang di kalangan santri, Kartini pernah menyampaikan keprihatinan langsung kepada Kiai Soleh Darat: “Kiai, mengapa kami hanya diajarkan membaca Alquran, tetapi tidak diberi jalan untuk memahaminya? Bagaimana kami bisa mengambil petunjuk jika kami tidak mengerti isinya?”

Pertanyaan ini bukan sekadar kegelisahan personal, tetapi representasi dari krisis epistemologis masyarakat terjajah: keterputusan antara teks dan makna. Menjawab itu, Kiai Soleh Darat memberikan jawaban yang tidak hanya bersifat pedagogis, tetapi juga politis dalam arti kebangsaan:

“Nduk, ilmu iku kudu mbebasake. Yen Qur’an mung diwaca tanpa dingerteni, wong bakal tetep gumantung. Nanging yen wis paham, wong bakal bisa ngadeg nganggo akale dhewe.”

(Nak, ilmu itu harus membebaskan. Jika Al-Qur’an hanya dibaca tanpa dipahami, manusia akan tetap bergantung. Tetapi jika sudah paham, manusia akan mampu berdiri dengan akalnya sendiri).

Di titik ini, tafsir bukan lagi sekadar aktivitas keagamaan, tetapi menjadi praksis pembebasan dan transformasi sosial dalam tataran pendidikan dasar keagamaan di ranah publik. Apa yang dilakukan Kiai Soleh Darat melalui penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa (pegon) adalah bentuk awal dari “literasi kebangsaan”: mengembalikan otoritas pengetahuan kepada rakyat.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |