Pakar: Transformasi Presiden Prabowo Pastikan Kemakmuran Rakyat dan Kemajuan Negara

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketika Presiden Prabowo Subianto berbicara tentang transformasi, yang ia maksud bukan sekadar perubahan. Transformasi adalah perubahan yang memastikan terjadinya kemajuan. Sebuah lompatan terencana yang membawa bangsa ini bergerak ke depan, bukan berputar di tempat, apalagi mundur.

Tim Pakar Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Isra Ramli, menegaskan bahwa tidak semua perubahan patut dirayakan. “Perubahan itu bisa mundur, bisa menyimpang dari jalan yang sebenarnya. Tapi transformasi itu adalah kemajuan yang memastikan bahwa ini maju ke depan,” ujarnya saat menjelaskan kandungan Buku Strategi Transformasi Bangsa Presiden Prabowo kepada Republika di Jakarta pada Rabu (4/2/2026).

Di sinilah letak perbedaan mendasarnya. Transformasi yang dimaksud Presiden Prabowo bukanlah perubahan dangkal pada permukaan, melainkan perubahan struktural yang menyentuh fondasi kehidupan bangsa. Ia tidak berhenti pada ornamen kebijakan, tetapi menyasar akar persoalan ekonomi, sosial, dan sumber daya manusia.

Secara struktural, transformasi diarahkan untuk mengoreksi ketimpangan. Hari ini, orang kaya di Indonesia hanya sekitar 0,5 persen dari total penduduk. Kelas menengah pun masih berada di kisaran 17 persen. Dalam kerangka transformasi nasional, angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan tantangan sejarah. Jika kebijakan diarahkan secara konsisten untuk kemajuan, jumlah orang kaya bisa meningkat menjadi 5 persen, sekitar 15 juta jiwa, dan kelas menengah diperluas hingga 40 bahkan 50 persen. Itulah fondasi negara kuat: masyarakatnya sejahtera dan berdaya.

Namun Presiden Prabowo sadar, transformasi ekonomi tidak akan berhasil tanpa transformasi kultural. Karena itu, perubahan nilai menjadi agenda penting. Orientasi masyarakat yang selama ini cenderung konsumtif dan serba instan harus diubah menjadi produktif, mau belajar, dan mau berusaha menghadirkan manfaat yang lebih besar.

Isra Ramli menekankan dimensi nilai ini sebagai jantung transformasi. “Ini perubahan nilai. Dari yang tadinya orientasi konsumtif, jadi produktif. Dari yang tidak mau belajar, maunya instan, menjadi mau belajar dan mau berusaha lebih,” katanya.

Transformasi nilai inilah yang akan melahirkan manusia Indonesia baru: pekerja keras, adaptif, dan siap bersaing. Tanpa perubahan budaya, program sebesar apa pun hanya akan menjadi proyek jangka pendek.

"Transformasi berbeda dengan revolusi. Transformasi adalah perubahan besar dan mendasar dari atas: dari kebijakan negara dan kekuasaan yang digunakan secara bijaksana. Transformasi tidak membuat pertentangan kelas dan identitas. Sehingga tidak membenarkan digunakannya kekerasan untuk menjadi tujuan atau meraih kekuasaan. Inilah bedanya dengan Revolusi," kata Isra

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |