REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga melakukan bunuh diri akhir Januari 2026 lalu. Menurut keterangan Kepolisian Daerah NTT, peristiwa tragis ini terjadi diduga kuat lantaran faktor ekonomi dan rasa kecewa anak usia 10 tahun tersebut.
Sebelum mengakhiri nyawanya sendiri, anak yang berinisial YBR itu diketahui sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli pulpen dan buku tulis demi keperluan dirinya belajar di sekolah.
Saat ditemukan oleh para saksi, jasad YBR dalam kondisi menggantung. Tak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP), ada secarik kertas yang memuat tulisan tangan anak tersebut dalam bahasa setempat: “Kertas Tii Mama Reti. Mama galo zee, Mama molo ja’o. Galo mata mae rita ee Mama. Mama jao galo mata. Mae woe rita nee gae ngao ee. Molo Mama.”
(“Surat buat Mama Reti. Mama saya pergi dulu. Mama biarkan saya pergi. Jangan menangis ya, Mama. Mama saya pergi. Jangan menangis, jangan mencari saya. Selamat tinggal Mama.”)
Peristiwa yang memilukan ini menimbulkan duka mendalam berbagai kalangan, termasuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat mengatakan, pihaknya menyatakan turut berduka cita atas kejadian ini.
"Peristiwa ini menjadi keprihatinan bersama dan kami menyampaikan empati kepada keluarga, teman, guru, serta seluruh warga sekolah yang terdampak," ujar Atip Latipulhayat dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Rabu (4/2/2026) sore.
Ia menegaskan, pemerintah memandang peristiwa tragis ini sebagai kejadian yang sangat serius. Menurut Atip, tragedi ini menunjukkan bahwa kondisi emosional seorang anak dapat dipengaruhi pelbagai faktor yang saling terkait. Karena itu, perlu perhatian dan dukungan berkelanjutan dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.
"Kemendikdasmen memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius, serta mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks," katanya.
Atip menjelaskan, peristiwa bunuh diri ini menjadi pengingat bagi seluruh pihak akan pentingnya menghadirkan lingkungan yang aman dan suportif bagi tumbuh kembang anak. Dalam hal ini, sekolah bersama orang tua dan masyarakat berperan penting dalam membangun komunikasi terbuka sehingga anak merasa aman untuk mengekspresikan kerentanan mereka.
Saat ini, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah bersama perangkat daerah terkait untuk melakukan pendampingan kepada keluarga yang berduka. Selain itu, Atip berjanji, pemerintah akan memberikan bantuan beasiswa pendidikan untuk anggota keluarga yang bersangkutan.
"Termasuk menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya. Selain itu, koordinasi lintas sektor juga dilakukan untuk memastikan keluarga mendapatkan akses layanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan," ucap dia.
Suasana pemakaman bocah YBR di Desa Batajawa, Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT.
Terdaftar di PIP
Kemendikdasmen juga memberikan klarifikasi terkait bantuan pendidikan. Menurut Wamendikdasmen Atip, YBR tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP).
PIP merupakan bagian dari kebijakan afirmasi pendidikan dari pemerintah pusat untuk anak-anak Tanah Air yang menempuh pendidikan dasar hingga menengah.
Atip mengatakan, dana PIP termasuk yang teruntuk bagi YBR telah disalurkan sesuai mekanisme yang berlaku. Namun demikian, Kemendikdasmen menegaskan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya bagi anak-anak dari keluarga rentan, tidak dapat berhenti pada dukungan finansial semata.
"Harus mencakup pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif," katanya.

2 hours ago
1

















































