REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan turut berduka cita atas wafatnya seorang anak berinisial YBS (10 tahun) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Siswa kelas IV sekolah dasar (SD) ini diduga melakukan bunuh diri.
Sebelum mengakhiri nyawanya sendiri, YBR diketahui sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli pulpen dan buku tulis demi keperluan dirinya belajar di sekolah.
Saat ditemukan oleh para saksi, jasad YBR dalam kondisi menggantung. Tak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP), ada secarik kertas yang memuat tulisan tangan anak tersebut dalam bahasa setempat: “Kertas Tii Mama Reti. Mama galo zee, Mama molo ja’o. Galo mata mae rita ee Mama. Mama jao galo mata. Mae woe rita nee gae ngao ee. Molo Mama.”
(“Surat buat Mama Reti. Mama saya pergi dulu. Mama biarkan saya pergi. Jangan menangis ya, Mama. Mama saya pergi. Jangan menangis, jangan mencari saya. Selamat tinggal Mama.”)
Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja dan Keluarga (PRK) Dr Siti Ma'rifah mengatakan, tragedi ini harus menjadi perhatian bersama, terutama bagi pemerintah.
"Peristiwa ini harus diselidiki tuntas oleh pihak yang berwenang dan penanganannya harus melibatkan lintas kementerian seperti Kemensos (Kementerian Sosial), Kementerian PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), Kemendikdasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah), serta Kemenag (Kementerian Agama)," ujar Siti Ma'rifah di Jakarta pada Rabu (4/2/2026).
Putri Wakil Presiden ke-13 RI ini meminta agar pemerintah pusat dan daerah sigap dalam melakukan pendataan dan penyaluran bantuan khusus untuk mengatasi persoalan kemiskinan ekstrem. Menurutnya, langkah ini sangat penting agar peristiwa tragis seperti ini tidak terulang kembali. Terlebih lagi, kasus demikian bisa terjadi karena disebabkan beberapa faktor, termasuk ekonomi.
"Masalah ekonomi dimana keluarga tidak dapat memenuhi kebutuhan pendidikan dasar, karena kesehatan mental dan juga pendidikan agama di keluarga," ucapnya.
Lebih lanjut, Siti Ma'rifah mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem bantuan pendidikan, perlindungan sosial, dan kepedulian masyarakat sekitar peristiwa ini.
Ia menilai peristiwa ini sangat menyayat hati dan menjadi peringatan keras bagi pemerintah dan masyarakat dalam menyiapkan generasi muda harapan bangsa yang sehat fisik, mental dan spiritual serta ekonominya.
"MUI sebagai khodimul ummah dan shodiqul hukumah akan mengambil peran bersama pemerintah, masyarakat dan seluruh stakeholder untuk menyiapkan penanganan perlindungan anak terintegrasi," katanya.
"Insya Allah KPRK MUI bersama seluruh stakeholder siap melakukan penanganan dan pendampingan untuk penguatan dan perlindungan terhadap perempuan, anak dan keluarga," tukas dia.

1 hour ago
1
















































